Tampilkan postingan dengan label Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heritage. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juli 2013

Masjid Trayu: Pathok Agama Pura Pakualaman

Siang itu perjalanan diarahkan ke sisi barat Jogjakarta, menyeberangi Sungai Progo, yaitu menuju sebuah kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dinamai sesuai kondisi geografisnya, Kulonprogo yang artinya barat Progo.  Letaknya memang di sebelah barat Sungai Progo yang berhulu di Gunung Sumbing, mengalir ke tenggara menyusuri lembah Pegunungan Menoreh hingga bermuara di Laut Selatan Jawa.   Sungai ini menjadi batas alami antara Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kulonprogo.  

Destinasi kali ini adalah sentra kerajinan dari serat agel yang mulai bangkit kembali di Sentolo, industri rumahan batik Kolonprogo dengan motif khasnya yaitu Gebleg Renteng di Sembung, menilik Yoni dan makam Jaka Tarub di desa Taruban, mengunjungi rumah bergaya Indisch di daerah bekas pabrik gula peninggalan kolonial di Galur, dan sebuah masjid tua milik Yayasan Pura Pakualaman.  Semua berada di wilayah Kabupaten Kulonprogo.

Masjid Trayu, Kauman Tirtorahayu, Galur Kulon Progo, DIY



Tidak diketahui kapan masjid ini dibangun, karena aku tidak menemukan angka tahun penanda masjid ini didirikan.

Dari papan nama yang dipasang, masjid ini milik Yayasan Puro Pakualaman, selanjutnya akan disingkat PA. Lalu timbul pertanyaanku, mengapa ada masjid PA di Kulonprogo yang letaknya jauh dari Puro Pakualaman? Jawaban terkuak setelah bertanya kepada seorang kawan yang sehari-hari bertugas sebagai Pamong Budaya wilayah Kulonprogo dan melanjutkan pencarian lewat google.

Sebuah masjid memang bisa digunakan untuk pathok atau penanda bagi penguasa.  Atau juga pathok sebagai penguat kekuasaan agar selalu legitimate, bahwa pemerintahan yang meskipun pusatnya berada jauh, akan tetap memiliki akar yang kuat di wilayah tersebut.  Pathok Nagoro demikian sebutan yang khas untuk penanda-penanda kekuasaan ini.  Setahuku, Kraton Jogjakarta memiliki 4 masjid pathok nagoro yang tersebar di 4 penjuru mata angin.  Hal ini sekaligus memberikan batas yang jelas atas kekuasaan kraton.  
Tapi untuk masjid Trayu ini, aku belum mengetahui dengan yakin bahwa ini sejenis dengan masjid pathok nagoro.  Tapi jelas ini merupakan pathok agama, di mana Pura Pakualaman menguatkan akarnya di bidang agama, salah satunya dengan masjid untuk masyarakatnya. 

Pada masa pendudukan Inggris, Sunan Solo dan Sultan Yogya dianggap tidak mentaati Perjanjian Tuntang. Hal ini membuat Raffles memaksa Sultan HB II turun takhta digantikan oleh Sultan HB III dengan pengurangan wilayah kekuasaan kasultanan. Sebagian wilayah diberikan kepada kadipaten baru yang berdiri tahun 1813, bernama Pakualaman. Pangeran Notokusumo, putra dari Sultan HB I diangkat menjadi adipati dengan gelar Pangeran Adipati Pakualam I.
Beberapa wilayah yang dibagi untuk PA adalah sebelah selatan Yogyakarta, antara lain Kabupaten Adikarto. Saat ini, Kabupaten Adikarto telah menggabungkan diri dengan Kab Kulon Progo sejak tahun 1951, sesaat setelah PA VIII dan Sultan HB IX menyatakan menjadi bagian dari NKRI.

Kabupaten Adikarto terdiri dari 2 distrik yaitu Kawedanan Galur dan Kawedanan Sogan. Di wilayah Galur inilah, Masjid Trayu berada. Mengapa PA membangun masjid di Trayu, mungkin ada kaitannya dengan asal-usul KGPAA Paku Alam V yang merupakan putra KGPAA Paku Alam II dari Garwo Raden Ayu Resminingdyah yang berasal dari Trayu, Tirtarahayu, Galur. Bisa jadi, masjid ini dibangun pada masa PA V, atau mungkin lebih jauh lagi pada masa PA II? Semoga ada yang bisa menjawabnya hehehehe .. ;)

Terdapat makam Raden Ayu Resminingdyah, garwa dari PA II dan beberapa keluarganya di belakang masjid. Letak makam yang berada di sisi barat masjid adalah ciri yang biasa ada, menjadi bagian dari keseluruhan area masjid tradisional. 


Struktur Masjid
Bangunan terdiri dari serambi dan ruang utama yang memiliki mihrab, ruangan khusus bagi Imam Masjid kala memimpin sembahyang berjama'ah.  Bagian ini selalu lebih menjorok keluar dibanding shaft/barisan untuk umat umum.  Selain itu terdapat mimbar dari kayu yang digunakan pengkhotbah memberikan tauziah di saat 2 khotbah jum'at, kuliah subuh, kultum dan khotbah-khotbah lain

Mihrab dan mimbar

 Pada bagian utama ini kerangka atap tak terlihat karena tertutup eternit.  Terdapat sejumlah saka yang menopang langit-langit, yaitu 4 saka guru dan 12 saka ruwa (luar) yang berbentuk bulat atau glondhongan, bukan bersudut.  



Ornamen pada sambungan blandar di rangka atap sungguh unik.  Meskipun tidak bermotif bunga atau sulur daun pada umumnya ukiran di Jawa, tapi tetap saja bagian-bagian ini tidak dibiarkan polos begitu saja.  Garis-garis dan pola geometris menjadi pilihan untuk mempercantik dan dibubuhkan warna cat yang berbeda, yaitu biru lembut untuk meningkahi kuning, membuatnya terlihat istimewa dan berbeda.  Bagaimanapun, masjid milik PA ini ditandai dengan sentuhan seni yang lebih dibandingkan masjid-masjid di sekitarnya yang polos dan sederhana.



Masjid ini sangat khas Jawa, dengan atap tajuk dan mustaka berbentuk sulur dan daun-daunan, bukan kubah bawang khas Timur Tengah. Mustaka seperti ini bisa dijumpai di masjid-masjid tua lainnya di Jogjakarta, seperti masjid-masjid Pathok Nagoro milik Kasultanan Yogyakarta. 

Atap tajuk dan mustaka


Bangunan dengan cat kuning yang warnanya persis Masjid Pakualaman di sebelah barat Puro Pakualaman ini tidak dilengkapi dengan menara TOA untuk mengumandangkan adzan panggilan sembahyang. Tanda waktu sembahyang diperdengarkan kepada masyarakat sekitar cukup dengan menggunakan bedug dan kentongan yang ditabuh.



Terdapat serambi yang luas tempat di mana bedug dan kentongan diletakkan.  Bagian yang lebih terbuka ini juga menjadi ciri khas masjid-masjid tua di Jogjakarta.  Masjid Gedhe Mataram di Kotagede, Masjid Gedhe Kauman Jogjakarta, Masjid Saka Tunggal di Tamansari dan masjid-masjid pathok nagoro yang tersebar di empat arah mata angin, semua memiliki serambi.
kerangka atap serambi
Pintu utama ruang utama dari arah serambi

Senin, 01 Juli 2013

Gema Paritta di Candi Banyunibo

Puja Bhakti di bilik utama Candi Banyunibo, Minggu 30 Juni 2013

Alunan Paritta Suci telah menggaung saat aku tiba di halaman candi.  Gemanya menembus lubang-lubang angin mencapai pelataran menyambut kakiku menapak di hitam batu candi.  Kulepas alas kaki sebelum menaiki 15 anak tangga yang dijaga sepasang binatang air mitologis, makara.  Puluhan pasang sandal dan sepatu berbaris rapi di sisi kiri tangga, jumlah peserta Puja Bhakti cukup banyak rupanya. 

Aku terlambat datang.  Seorang pembicara yang masih terhitung belia tengah menyampaikan adab muda-mudi berpacaran.  Penyampaiannya segar dan seringkali membuat peserta yang hadir terkikik karena diselipi humor yang lucu.  Semenit kemudian aku tahu, ini pembicaraan tentang bagaimana muda-mudi Buddhis mestinya bersikap terhadap hidupnya.  Baru sekali ini aku tahu bahwa dalam ajaran ini juga diturunkan hal-hal praktis dalam keseharian, tidak hanya mengenai 'kelekatan', satu hal yang aku ambil selama berhubungan dengan umat ini.

Sebelum Puja Bhakti diakhiri dengan pembacaan Paritta Suci, kantung berwarna merah beredar kepada para umat yang berkehendak untuk berdana.  Sebuah lagu berkaitan dengan 'berdana' dinyanyikan seluruh umat selama kantung merah berkeliling.  Terdapat 3 hal yang mesti diingat umat sebelum, di saat dan sesudah berdana, yaitu : 

Sebelum berdana merasa senang dan bahagia.
Pada waktu berdana merasa senang dan bahagia.
Sesudah berdana merasa senang dan bahagia

Puja Bhakti ditutup dengan pembacaan Paritta dalam bahasa Pali oleh seorang perempuan yang duduk tepat di bawah altar utama.  Suaranya yang indah mengalun menciptakan gema syahdu membumbung ke langit-langit candi dan berputar-putar mencapai telinga-telinga para umat.   Mereka menirukan bersama-sama.  Seketika, ada rasa haru terselip di hatiku.  Candi tua ini hidup kembali.  Mereka, muda-mudi Buddhis telah menghidupkan candi ini dengan alunan Paritta Suci yang mungkin sudah terlalu lama tidak menyentuh dinding-dindingnya yang dingin. 

Paritta Suci

Aku membayangkan masa lalu yang tak pernah aku lihat.  Aku hanya menduga, candi ini berfungsi seperti ini, sebagai tempat menaikkan puja dan harapan.  Serta mengingat Sang Guru -Buddha Gautama,  yang telah mengajarkan apa yang telah dialami selama hidup dalam pencarian cerah. Entah sejak kapan candi ini kehilangan makna, menjadi hanya sekedar dilihat, dipegang dan dipotret untuk berbagai kepentingan.  

Bilik utama mestinya terdapat altar dan Buddharupang sebagai simbol kehadiran Guru saat ajaran-ajaran kembali diturunkan kepada umat.  Langit-langit meruncing di puncak menghasilkan akustik ruangan yang mampu menciptakan gumam Paritta mengalun indah.  Lubang berbentuk persegi di ketiga sisi candi mengantarkan angin, menjadikan umat betah berlama-lama di dalam ruangan karena merasakan sejuk.  Bersama angin, cahaya matahari leluasa menghujani ruangan melalui lubang-lubang persegi tersebut.  Setiap kata dan kalimat di dalam kitab-kitab dapat dibaca jelas karenanya.  Sungguh ruangan ini ideal untuk beribadah, tapi tak ada lagi Puja Bhakti dilakukan setelah sekian lama candi ini kehilangan makna sesungguhnya.

Siang itu, Minggu 30 Juni 2013, Paritta mengalun kembali.  Candi itu hidup.  Begitu juga spirit-spirit lama yang menempel pada dinding batu yang dingin, lembab dan tua.  Semoga mereka semua berbahagia.  

Sabbe satta bhavantu sukhitatta _/\_

Candi Banyunibo



Catatan mama :
- Candi Banyunibo terletak di Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman Jogjakarta, tak jauh dari lokasi Candi Ratu Boko.  Dibangun sekitar abad 9 pada masa Kerajaan Mataram Kuno.  Bangunan yang masih bisa dilihat ini sebenarnya bukan satu-satunya, karena terdapat 6 runtuhan candi perwara (pendamping) yang berada di sisi timur dan selatan.  

Candi Banyunibo


- Candi Banyunibo memiliki stupa di puncaknya, merupakan ciri yang paling mudah dikenali dari tipe Buddhis.  Atapnya yang melandai sangat unik dan tidak banyak bisa dijumpai di candi-candi lain.  
- Lubang angin sekaligus penghantar cahaya berjumlah 6 buah membuat candi ini memiliki bilik utama yang sejuk, segar dan tidak gelap. 
- Di dinding dalam terdapat relief yang tidak lengkap.  Begitu juga di kedua sisi lorong masuk, relief Ibu Haritti dengan banyak anak itu sebagian sudah rusak, tak selengkap yang ditampilkan Candi Mendut.  Sementara dinding luar, terdapat banyak ceruk-ceruk berisi relief Bodhisatwa yang anggun dan berlekuk indah.  Sekujur tubuh candi dihias dengan pahatan  sulur-sulur tanaman dan ukiran berbagai macam binatang.

Relief Haritti


 




Minggu, 16 Juni 2013

Bangsa Khmer Menyelamatkan Teks

Bagaimana setiap generasi terhubung? 
Salah satunya adalah melalui teks.

Ada kesedihan saat catatan elektronik yang kubuat lenyap, tanpa back-up, saat laptop lamaku itu tiba-tiba mati selamanya.  Peristiwa-peristiwa selama dua tahun yang telah kuubah dalam teks yang hilang itu menjadi pemutus jejak, a missing link.

Kasus seorang teman, bumi seperti terbalik ketika mendadak laptopnya tidak mau bekerja.  Rumusan masalah dan analisa  yang menghabiskan 3 hari kerja otak, lenyap! Dunia terasa gelap, sebab kini harus meraba-raba kembali setiap tahap yang telah dikerjakan.  Memanggil sepenuhnya ingatan untuk menyusun kembali data yang telah hilang.
Hampir semua orang pernah mengalaminya.  Kehilangan data, cerita, kenangan, apapun itu, selalu menghadirkan kekosongan yang menyedihkan. 
Mari melangkah surut, pada 3 dari sekian banyak peristiwa yang mengingatkan bagaimana rasa kehilangan mendalam sejumlah teks penghubung antar generasi. 

# 13 Oktober 1965, pembakaran data dan karya Pramoedya Ananta Toer. 
Kabarnya, dia membawa dendamnya hingga meninggal pada tentara, saat kliping tentang Indonesia yang telah dikumpulkan selama belasan tahun dibakar bersama dengan beberapa karya teks-nya.  Dia sudah mengiba pada tentara agar tidak membakar, tapi menyerahkan kepada arsip negara untuk disita atau disimpan.  Tidak untuk dimusnahkan. Tapi tetap, api menghabiskan data dan karya teks Pramoedya.

Mundur lagi ke belakang.

# 1812, Geger Sepehi/Sepoy.  
Saat itu Inggris dibawah Raffles menyerang Keraton Yogyakarta pada masa jumeneng Sultan HB II.  Pasukan Gurka utusan Inggris berhasil membobol Keraton dan merampas kekayaaan yang dimilikinya saat itu, termasuk manuskrip-manuskrip kuno.  Seperti yang dikatakan Sultan HB X, waktu itu, setiap hari sekitar lima gerobak naskah kuno diambil selama satu minggu berturut-turut dan dibawa ke London. Naskah itu berisi tentang tari-tarian ataupun karya-karya pujangga keraton. Lebih dari 7.000 judul naskah kuno Keraton Yogyakarta dibawa ke Inggris sehingga manuskrip kuno pada masa HB I dan HB II nyaris hilang. Saat ini, di Perpustakaan Widya Budaya Keraton Yogyakarta tersisa 363 naskah (Kompas, 7 Agustus 2010).

Jauh lagi ke belakang, ratusan tahun lalu.

# Abad 12, Angkor Wat, Cambodia.  
Budaya menulis bangsa Khmer di Cambodia bisa disaksikan dari bekas bangunan perpustakaan yang ada di  Angkor. Gedung perpustakaan selalu dibangun sepasang, baik itu di Angkor Wat, di kompleks Bayon di Bapuon, maupun di Banteay Srei.  Diduga, dalam bangunan yang terpisah dari candi utama inilah manuskrip-manuskrip kuno bangsa Khmer disimpan dalam bentuk teks di atas lontar.  Saat ini kita hanya bisa menyaksikan bangunan perpustakannya saja, sebab semua lontar yang hanya bisa bertahan 100-150 tahun itu telah hancur dimakan usia dan musnah karena berbagai sebab.  

Manuskrip kuno di atas lontar.  Inilah lembar ramalan tentang aku dari seorang peramal di ruang utama Angkor Wat.

Agak melegakan saat mengunjungi candi-candi itu dan mendapati manuskrip-manuskrip kuno dipahat di dinding dan pilar-pilar.  Aku trenyuh sendiri saat meraba huruf-huruf Pali, Sanskrit dan juga bahasa Khmer diukir halus dan rapi di batu. Bangsa Khmer kuno mengukirkan inskripsi pada batu-batu keras yang abadi tentang  pengetahuan, cerita kehidupan sehari-hari, catatan peristiwa besar serta mantra-mantra pemujaan kepada para dewa dan raja.  Mereka telah menyelamatkan teks! Betapa mereka telah menghubungkan setiap generasi sejak ratusan tahun lalu.  

Salah satu pilar di Angkor Wat

Inskripsi di dinding pintu Keone Wat

Inskripsi di dinding Elephant Terrace, kompleks Angkor

Gedung perpustakaan sisi selatan area Angkor Wat dan seorang bikku duduk di pintu masuk.



Kamis, 06 Juni 2013

Suwung di balik Slintru

Di sebuah rumah jawa.  Kotagede. 

Aku melintasi regol, seketika sebuah pendapa menghadang pandanganku.  Bangunan tanpa sekat, ruang bagi pemilik rumah untuk terbuka dengan siapapun dan apapun.  Terbuka, karena hanya terbangun dari empat saka guru dan dua belas saka ruwa  menciptakan bayang yang doyong ke barat di atas ubin abu-abu, matahari baru saja naik.  Pendapa itu selain terbuka juga 'terang', tak ada yang tertutup atau ditutupi di sini.

Kuputari pendapa yang memiliki tumpangsari bersusun lima itu dan langsung menuju pringgitan. Ruang antara pendapa dan dalem ageng, tempat di mana seorang dalang biasa melakonkan ringgit atau wayang.  Sesampainya di emper, kuletakkan pantat, duduk, di gigirnya.  Di sini, suasana tak seterang pringgitan apalagi pendapa.  Tembok-tembok tebal yang mengepung emper dari kanan dan kiri menyiutkan cahaya.

Kuintip ruang dalam yang temaram.  Mesti matahari sudah mulai terang, tapi cahayanya tak bisa lebih jauh menembus dalem ageng.  Sepasang jendela berjeruji kayu yang mengapit pintu kayu berbilah dua, tak juga membantu sedikitpun ruang dalam itu mendapatkan sinar dan kehangatan matahari.  Gelap.

Aku bangkit.  Lantai emper yang sedikit lebih tinggi itu membuatku mencincing kain saat menaikinya.  Selembar jarik kawung untuk jiwa yang suwung. Jarik yang ketat membebat tubuh itu menjaga langkah tidak tergesa-gesa dan membuatku memilih berjalan hati-hati daripada wirang karena terjungkal.  Mata memicing untuk dapat melihat semuanya menjadi jelas.  Perlu penyesuaian dari terang ke gelap selama beberapa detik sebelum kemudian dapat melihat satu setel meja kursi kayu, sebuah amben dan dua lemari kayu serta dua buah lampu senthir berkaki, setinggi 1 meter.

Aku berdiri menghadap utara, tepat di depan senthong tengah.  Ini adalah satu-satunya bagian yang tidak tertutup, setidaknya sedikit tertutup dan tak rapat.  Sementara kedua senthong lain di kiwa dan tengen berpintu dan ditutup.  Senthong tengah ini hanya ditutupi slintru, partisi dari bilah-bilah papan dilukis motif cinde yang dirakit menjadi satu.  Aku mengintip dari celah, dan hanya menjumpai gelap.  Serta kosong.

Inilah yang kucari.  Ruang kosong.  Bagian paling sakral dalam rumah tradisional jawa, senthong tengah.  Lantainya sengaja ditinggikan karena ruang untuk manusia dan ruang untuk-Nya ditandai dengan level yang berbeda.  Kegelapan yang juga sengaja diciptakan dengan tanpa memberikan lubang cahaya menggiring penglihatan menjadi buta pada hal-hal yang bendawi.  Atau sebaliknya, gelap membuat penglihatan semakin tajam memindai.  Seperti sunyi yang menajamkan telinga untuk menangkap bisik terhalus, yang biasanya tak terdengar sebab gaduh yang kita buat sepanjang waktu.  Seperti juga sepi yang melahirkan kesadaran akan setiap gerak yang tengah dilakukan.

Suwung, ruang dibalik slintru itu suwung.  Sekarang hanya ada aku dan kekosongan.  Aku dihadapkan pada situasi yang membuatku kerdil.  Kesendirian.  Tidak ada kawan yang menemani dan tak ada lawan yang menyaingi.  Tak ada yang dihadapi.  Lalu apa? Manusiawiku menjadi luruh dalam dudukku simpuh.  Kekosongan menghadirkan-Nya begitu nyata. 

Senthong tengah yang slintru-nya sudah dibongkar, menjadi ruang terbuka dan kini dipakai untuk Sholat

------------

Imajinasi dan perasaan lebay yang campur aduk saat terkesan dengan Senthong Tengah sebuah rumah tradisional Jawa di Kotagede.  Ruang ini sudah dihilangkan atau dialihfungsikan, tidak ada yang menggunakannya lagi sesuai makna saat ruang ini dibangun dulu.

Senthong tengah merupakan ruang inti dari ndalem ageng.  Tidak digunakan untuk tidur atau kegiatan apapun.  Dulu, ruang ini dipersembahkan kepada Dewi Sri yang akan turun memberkati panen, kesejahteraan dan keselamatan penghuni rumah. 

Senthong tengah ndalem Sopingen, Kotagede

Senthong tengah ndalem juragan perak di Purbayan Kotagede

Senthong tengah di Between Two Gates, Kotagede

Senin, 03 Juni 2013

Deja vu dengan mainan tradisional Mbah Joyo Pandes

Kitiran/kincir

Dalam sekian puluh tahun perjalanan hidup, kita selalu mengalami perjumpaan juga perpisahan.  Kita selalu menemui perjumpaan-perjumpaan dengan apapun setiap saat.  Dan disadari ataupun tidak, banyak hal pula telah lepas dari kehidupan kita.  Datang dan pergi.  
Mari kita menengok ke belakang, sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu.  Saat kanak-kanak, mainan adalah bagian yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan kita.  Benda-benda yang wajib ada menyertai pertumbuhan kita.  Sebab inilah media pembelajaran yang luar biasa.  Banyak dari kita yang tak ingat lagi begaimana riangnya menjumpai mainan baru dan bagaimana sedihnya ketika mainan itu rusak atau hilang. 

Masih ingat mainan apa yang dimiliki saat itu? 

Aku dan adikku memiliki masing-masing satu ember besar penuh mainan.  Karena kami berbeda jenis kelamin, maka ibuku perlu memisahkan wadahnya.  Kami bertanggungjawab atas mainan yang dimiliki, kerusakan, kehilangan, dan yang terpenting adalah pemberesan setelah bermain.  Aku tak begitu ingat mainan apa saja yang aku miliki.  Tapi yang jelas mainan pabrikan dari plastik mendominasi isi emberku.  Saat mengunjungi Dusun Pandes di Bantul, tempat mainan tradisional warna-warni ini dibuat, aku sama sekali tidak bisa mengingat apakah aku pernah memilikinya? 

Aku mungkin tak pernah memilikinya dulu, tapi aku begitu antusias saat berada di rumah Mbah Joyo Sumarto (80-an tahun).  Beliau adalah salah satu dari beberapa perempuan sepuh pembuat mainan anak-anak dari material sederhana bahkan beberapa dari bahan bekas.  
Aku sangat senang meniup bunga-bunga kincir hingga berputar.  Bahkan aku kegirangan saat angin menerobos celah-celah dinding bambu yang tak rapat itu.  Angin membuat bunga-bunga kitiran yang terpasang di dinding itu berputar semua dan menimbulkan suara sedikit berisik.  Ahh, aku bahagia memandanginya, semua berputar bersamaan.  Aku lalu menjadi trenyuh, aku pasti pernah sebahagia ini saat kanak-kanak dulu.  Seperti deja vu.

Saat itu sungguh aku seperti anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa.  Aku tergesa-gesa memilih mainan yang akan kubeli, seperti takut mainan terbaik akan diambil oleh anak lain.  Tentu saja mainan ini nanti akan kuberikan untuk gendukku, demi sebuah senyum bahagia di wajahnya.  Ada Kitiran bunga kertas, kandhang burung dari bilah bambu, payung dari kertas wajik, wayang dari karton bekas dos rokok dan susu, juga othok-othok.  Mainan terakhir aku sebut ini menciptakan bunyi memekakkan telinga.  Ada pelat seng tipis yang memukul-mukul gendang kecil dari bambu, saat pegangannya diputar.  Mainan seharga Rp 2.000 ini berhasil membuatku tertawa lebar saat memutarnya dan klothok kothok klothok .. begitu bunyinya.  Temanku yang ikut berkunjung mendelik sambil menutup telinganya.  Aku tertawa senang bisa membuatnya terganggu! 

Lalu aku merasa iri dengan anak-anak Kotagede yang pada masa Mbah Joyo masih kuat mengkayuh sepeda, bisa membeli mainannya di Pasar Legi.   Iri yang biasa timbul pada diri anak-anak karena temannya mempunyai mainan yang tak dimilikinya.  Pada saat itu mainan Mbah Joyo digelar di bawah salah satu Pohon Waru di sisi barat pintu masuk Sarlegi Kotagede.  Warna-warni dan bunyinya yang berisik pasti menarik perhatian anak-anak Kotagede yang pada tahun 80-an berusia TK atau SD.  
Lalu aku merengut saat Mbah Joyo bercerita, bahwa mainannya juga menjadi rebutan anak-anak kecil di malam Sekaten atau pasar-pasar malam.  Ahh, kenapa bapak dan ibu tidak mengajak aku serta adikku ke Sekaten waktu itu? Sungguh protes dan keirian yang konyol, khas anak-anak yang tak pantas lagi hinggap dalam pikiran orang dewasa sepertiku. 

Sesaat sebelum pulang aku meminta simbah berfoto denganku, sebagai alasan aku bisa duduk berdekatan dengannya.  Aku menempel pada tubuh tuanya, seperti seorang anak yang aleman (manja) dan merengek padanya.  Aku menyentuh keriput kulit pada tangannya yang kering.  Ada keajaiban dibuat oleh kedua tangan itu, yaitu tawa, gelak canda dan kegembiraan anak-anak. Termasuk aku, seorang dewasa yang saat itu terberkahi dengan rasa bahagia yang hanya dimiliki anak-anak.

Semoga Mbah Joyo selalu sehat dan bahagia seperti anak-anak yang tengah bermainan dengan karya-karyanya.  
Sungkem. 


Rumah Mbah Joyo Sumarto



Kitiran/kincir bunga

Wayang dari karton bekas dos rokok, susu, dll


Kandang burung dan payung fantasi

Peralatan sederhana





Rabu, 15 Mei 2013

Kesabaran tetes kopi a la Vietnam

Vietnam Coffee Drip

Ho Chi Minh adalah kota yang mengejutkan. Begitu sibuk, bergeliat dan seolah tergesa mengejar pencapaian yang tertunda oleh perang panjang. Demikian kesan yang kusimpulkan dari tempatku duduk, saat menyapukan pandangan ke arah jalanan. Kopi khas Vietnam ini membuatku menunggu dan memiliki kesempatan untuk mengamati situasi di sekitar, hingga jatuhnya tetes kopi terakhir.

Kopi.  Bubuk hitam dengan rasa pahit itu sangat populer sebagai minuman yang bisa dinikmati dengan berbagai macam gaya.  Dari yang paling sederhana, menubrukkannya dengan air panas, maka jadilah kopi tubruk, seperti lazim di Indonesia. Atau diproses dengan mesin canggih berikut takaran yang terukur, seperti yang disukai penikmat kopi di Eropa, menjadikan kopi semakin bergaya.  Kopi juga menjadi teman buru-buru, dikemas dalam cangkir kertas tahan panas dalam genggaman para pekerja yang tergesa-gesa di jalanan Amerika. Begitu kaya akan gaya.

Tradisi.  Sejak ditanam, dipanen, hingga diproses menjadi bubuk dan dinikmati, merupakan rangkaian panjang yang mesti diakui sebagai budaya.  Apalagi menikmati kopi sebagai tradisi yang khas turun temurun ini masih berlangsung hingga hari ini.  Ragam budaya kopi ini telah menyebar di luar batas negara untuk menggapai lidah para petualang rasa. Ia tak lagi menjadi milik negara asal. Meskipun nama negara asal biasanya tetap melekat menjadi sebutan tradisi itu.  Kedai-kedai kopi modern justru menonjolkan proses-proses tradisional dalam membuat kopi untuk pelanggan, misalnya kopi tarik khas Melayu, Espresso yang terkenal di Itali atau rebus kopi a la Turki dengan kendil tembaga.

Sementara, nun jauh di sisi paling timur dari Semenanjung Indocina, masyarakat Vietnam menikmati kopi dengan cara yang unik.  Secara internasional ia terkenal dengan nama Vietnam Coffee Drip. Adalah tetes demi tetes kopi yang dinantikan memenuhi segelas kopi kecil. Di dasar gelas telah menanti susu kental yang siap diaduk jika tetes kopi terakhir telah jatuh. Rasa manis hanya samar-samar, sebab getir kopi Vietnam sangat pekat. Kopi susu? Ya .. menjadi segelas kopi susu jika itu di Indonesia. Hanya bedanya, kopi susu membuat rasa kopi menjadi sangat lemah dibandingkan rasa manis susu. Ini menjadi jenis kopi yang kuhindari.



Setakar bubuk kopi yang dituangkan dalam cangkir saringan alumunium ditambah air panas, akan menghasilkan tetesan pekat yang memenuhi gelas dibawahnya.  Menanti tetesan terakhir memenuhi gelas adalah moment yang menguji kesabaran, bahwa kenikmatan sesungguhnya tidak ada yang instan.

Bisakah dibayangkan, menikmati prosesi yang memakan waktu 10 hingga 15 menit di tengah riuh rendah kota Ho Chi Minh?  Sungguh ini menjadi semacam perlawanan. Proses yang begitu cermat dan lambat di antara lalu lalang penduduk yang terlihat selalu bergegas di jalan kota. Menunggu tetes demi tetes yang begitu pelan di antara laju sepeda motor yang tak henti-hentinya membunyikan klakson dan tampak terburu-buru.  Bagiku, ini seperti mencicipi surga kecil. Tempat di mana laju tubuh yang selalu melesat diperlambat dan jiwa yang gelisah diberi ruang untuk sejenak hening.  Pause. Jeda.





Senin, 13 Mei 2013

Membaca identitas Singapura di Boat Quay



Singapura terlanjur terkenal dengan Marina Bay Sands, Gedung Esplanade dan Patung Merlion.  Di sekitarnya puluhan gedung-gedung modern menggapai langit menjadi latar pemandangan yang menjadi situs wajib foto bagi pelancong.  Kawasan-kawasan utama tersebut memang bisa menjadi gambaran tentang Singapura, yang modern dengan laju ekonomi pesat meninggalkan tetangga-tetangganya di Asia Tenggara.  Tapi tahukah bahwa Singapura juga memiliki identitas lain selain gedung-gedung pencakar langit?

Tak perlu meninggalkan Boat Quay, yaitu landmark wajib bagi pelancong yang sering disebut sebagai wajah Singapura.  Di depan May Bank Tower, ada patung-patung yang terlihat unik, sebab kesederhanaannya menampilkan sisi lain Singapura.  Patung beberapa buruh yang sedang mengangkat karung mungkin berisi beras atau tepung menjadi sesuatu yang bertolak belakang dengan modernitas yang ingin ditampilkan di wajah Singapura.  Tapi jika masa kini ditarik kembali jauh ke belakang, mulai abad 14 ketika kawasan ini masih dikenal sebagai Tumasek, patung-patung ini bisa jadi gambaran aktual saat itu.  Sejak abad 14 hingga 18, wilayah yang terletak di ujung Semenanjung Melayu ini secara alami telah menjadi titik temu bagi perdagangan melalui laut dari berbagai negara di sekitarnya.  Hingga Sir Stamford Raffles yang waktu itu masih menjadi Letnan Guberunur Bengkulu merasa perlu membangun wilayah ini untuk menjadi lebih mendukung perdagangan.  Pengaruhnya tak hanya negara-negara sekitar tapi meluas hingga Amerika dan Timur Tengah.  Maka patung-patung buruh yang sedang melakukan bongkar muat ini menjadi sangat relevan dengan sejarah Singapura yang ingin dihadirkan berdampingan dengan kemajuan industri saat ini.  Sekilas mereka ingin menyampaikan bahwa Singapura modern saat ini pernah dibangun dari kerja ribuan buruh yang memanfaatkan posisi strategis geografisnya dalam perdagangan melalui laut.

Patung buruh di depan May Bank Tower

Patung lain adalah sosok Gubernur Jenderal Inggris, Sir Stamford Raffles yang dikenal sebagai Bapak Pendiri Singapura modern.  Patungnya dibuat tinggi menjulang dengan warna putih yang pucat di sekujur tubuhnya, menandai titik pertama Raffles menginjakkan kaki di Singapura pada tanggal 29 Januari 1819 dan menjejakkan gagasan tentang Singapura modern.  Lokasi ini dikenal sebagai Raffles's Landing Site. Terdapat 4 prasasti di setiap sisi dinding tugu tempat di mana patung ini berdiri.  Dari setiap prasasti menuliskan hal yang sama dalam bahasa yang berbeda, yaitu Bahasa Inggris, Bahasa Melayu, Bahasa China dan Bahasa India.  Inkripsi tersebut merupakan penghormatan dan ungkapan kekaguman terhadap Raffles yang telah berhasil merubah kampung nelayan menjadi pelabuhan besar dan kota metropolis :

"On this historic site, Sir Thomas Stamford Raffles first landed in Singapore on 28th January 1819, and with genius and perception changed the destiny of Singapore from an obscure fishing village to a great seaport and modern metropolis." 

Raffles's Landing Site, 29 Januari 1819

 
Inkripsi dalam 4 bahasa : Inggris, Melayu, China dan India

Di sisi yang lain terdapat patung Raffles tengah duduk dan seolah berbicara dengan dua orang penduduk asli Singapura.  Keduanya dalam posisi berdiri.  Dari pakaian tradisional yang mereka kenakan, langsung bisa dikenali bahwa salah satunya adalah warga Melayu dengan peci di kepala dan sarung menutup tubuh bagian bawah.  Sementar satunya lagi adalah warga China yang mengenakan baju berkerah dan berkancing China serta kopiah bundar yang khas.  Dari patung-patung ini, ada yang ingin disampaikan bahwa, Raffles sebagai wakil dari koloni Inggris telah membangun interaksi yang baik dengan warga setempat.  Jelas bahwa China dan Melayu merupakan penduduk asli yang telah lama berbagi ruang ekonomi, sosial, politik, agama dan budaya di Singapura.  Mestinya masih harus dihadirkan satu lagi patung warga India.  Karena ketiganya ini merupakan penduduk asli dan sekaligus tiga entitas yang membentuk identitas nasional Singapura.  Konon, telah sejak lama, mereka berbagi ruang hidup.  Masyarakat Melayu menguasai pekerjaan dalam pemerintahan, warga China menguasai perekonomian serta industri, sementara warga India berkontribusi dalam perdagangan.  Tidak heran ketiga bahasa ini digunakan bersama dalam menulis prasasti penting tentang Raffles selain Bahasa Inggris yeng sebenarnya bukan bahasa nasional tapi paling sering digunakan oleh warga Singapura.

Raffles berbicara dengan warga Melayu dan China



Catatan Mama :
Meskipun tidak dihadirkan bersama berbicara dengan Raffles, tapi wakil pemimpin India yang tersohor, Perdana Menteri Jawaharlal Nehru dibuatkan patung pula dan diletakkan di kawasan industri nomer satu di Singapura ini.  





Sabtu, 16 Maret 2013

Candu Candi 2013

Candi Plaosan Lor, Kalasan, Klaten

Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah

Candi Cetho, Karanganyar, Klaten

Candi Gunungsari, Gulon, Salam, Magelang

Candi Sumur Gumuling, Gumuk Ijo, Kalasan

Kamis, 14 Maret 2013

Kisah Baru Batik Lawas

Ketika selembar batik tua yang kusam dan ditinggalkan menjadi lebih bernilai di tangan ibu Marie Pang, maka yang ada hanya rasa takjub. Untaian bola kayu yang dibalut batik lawasan menjadi kalung cantik dan unik.  Semua tali untuk kalung dan gelang dibuat dengan pilinan, jalinan serta jahitan yang sungguh rapi.  Tidak hanya batik lawasan, tapi ulos, juga kain tenun dan kain nusantara lainnya yang merupakan warisan budaya dari leluhur bangsa ini, menjelma menjadi berbagai asesoris yang diburu kaum perempuan. Dibantu oleh para perempuan -ibu rumah tangga di sekitar rumahnya, Marie Pang menghadirkan asesoris cantik bernuansa lokal untuk para perempuan Indonesia bahkan dunia.  

Berawal dari kejatuhan usaha yang semula menjadi tumpuan hidup keluarganya selama di Jakarta membawa perubahan sikap yang lebih realistis.  Di saat kehilangan banyak, Marie Pang mendapatkan sedikit keyakinan untuk mencoba hal kecil dan sederhana.  Siapa menyangka, perempuan yang disangkal tidak bisa menjahit bahkan diragukan oleh ibunya sendiri ini berhasil membalik takdir.  Berpindah ke Jogjakarta, semula yang terlihat mustahil kini menjadi nyata.  Berbekal sikap tubuh yang konsisten, Marie Pang membebaskan imajinasi tanpa batas dalam membuat desain serta olah warna.  Hingga rentang waktu belasan tahun, karya-karyanya saat ini menjadi ciri tersendiri yang dikenali sebagai miliknya.  Etnik dan unik.











Minggu, 24 Februari 2013

Evolusi Manusia dalam Batik Sangiran

Batik, jika dipandang sebagai kata untuk sebuah proses -yaitu proses membatik, maka motif bukan lagi menjadi karakter yang wajib dipenuhi.  Motif kemudian menjadi sesuatu yang bebas dituang dalam selembar kain yang diproses, bernama membatik. 

Kini tak lagi wajib membubuhkan canting berisi malam cair yang panas membentuk kawung, truntum, parang dan beragam motif sida.  Sebab motif bisa apa saja, bisa segala hal yang menyentuh indra seorang pembatik. Asalkan karya dari olah rasa dan raga ini diperlakukan sama dengan cara membatik.  Membubuhkan malam panas di atas kain berpola, mencelupkan ke dalam cairan warna yang diinginkan, melorotkan malam dengan air panas di atas tungku, mencuci dan terakhir mengeringkannya.


Batik dengan motif yang tidak terikat pakem konvensional agaknya sedang menjadi trend.  Selepas terobosan batik warna-warni cerah yang mencolok mata yang menjadi gambaran masyarakat yang bebas berekspresi, kini motif diambil dari simbol-simbol yang berada dekat dengan diri pembuatnya.  Motif khas yang dituangkan dalam kain dianggap bisa mewakili identitas suatu daerah.  Tidak tanggung-tanggung, setiap pemerintah daerah kini memfasilitasi perajin batik di wilayahnya untuk menggali potensi yang ada dan menuangkannya dalam batik.  Jika Magelang membuat batik dengan motif Gunung Tidar yang terkenal sebagai landmark-nya, Gunungkidul memenangkan batik motif Gebleg-Renteng yang merupakan makanan khas-nya, Sragen tidak tertinggal.  Wilayah dimana Situs Sangiran -homeland of Java Man atau dikenal dengan situs manusia purba ini berada.  

Batik ini diwarnai dengan kimia yang cerah terdiri dari hijau mewakili warna kesuburan, kuning sebagai warna padi yang siap dipanen, coklat sebagai unsur tanah Sangiran dan merah sebagai simbol kemegahan dan kemakmuran. 
Sedangkan simbol bergambar evolusi perkembangan manusia merupakan tanda bahwa batik ini berasal dari Sangiran, tempat di mana jejak-jejak manusia purba ditemukan.  Selain juga ada motif gading berukir, mewakili temuan fosil stegodon atau gajah purba yang ditemukan secara sporadis di wilayah ini.  Semua ini menegaskan tentang identitas Situs Sangiran yang telah ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage. 
Gambar Dewi Sri yang dipercayai sebagai Dewi Kesuburan menurut mitologi Jawa dituangkan pula di antara tanaman padi yang telah menguning dan butiran-butiran padi yang berserak seperti yang terjadi saat panen.  



Dukungan pemerintah bagi desain yang penuh simbol lokal ini di-implementasi-kan dalam pakaian seragam seluruh jajaran pegawai negeri sipil di Kabupaten Sragen.  Kebebasan memilih identitasnya sendiri menjadi istimewa sebab dibaliknya telah terurai tahapan-tahapan menggali dan mengenal potensi yang dimiliki.  
Lepas dari ini semua, pastinya batik yang digunakan adalah batik yang sesungguhnya, yaitu melalui proses membatik.  Bukan tekstil bermotif batik yang diproduksi dengan mesin.  Jika ini kain tekstil pabrikan bermotif batik, maka misi melestarikan batik menjadi omong kosong.