Tampilkan postingan dengan label Kotagede. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kotagede. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juni 2013

Suwung di balik Slintru

Di sebuah rumah jawa.  Kotagede. 

Aku melintasi regol, seketika sebuah pendapa menghadang pandanganku.  Bangunan tanpa sekat, ruang bagi pemilik rumah untuk terbuka dengan siapapun dan apapun.  Terbuka, karena hanya terbangun dari empat saka guru dan dua belas saka ruwa  menciptakan bayang yang doyong ke barat di atas ubin abu-abu, matahari baru saja naik.  Pendapa itu selain terbuka juga 'terang', tak ada yang tertutup atau ditutupi di sini.

Kuputari pendapa yang memiliki tumpangsari bersusun lima itu dan langsung menuju pringgitan. Ruang antara pendapa dan dalem ageng, tempat di mana seorang dalang biasa melakonkan ringgit atau wayang.  Sesampainya di emper, kuletakkan pantat, duduk, di gigirnya.  Di sini, suasana tak seterang pringgitan apalagi pendapa.  Tembok-tembok tebal yang mengepung emper dari kanan dan kiri menyiutkan cahaya.

Kuintip ruang dalam yang temaram.  Mesti matahari sudah mulai terang, tapi cahayanya tak bisa lebih jauh menembus dalem ageng.  Sepasang jendela berjeruji kayu yang mengapit pintu kayu berbilah dua, tak juga membantu sedikitpun ruang dalam itu mendapatkan sinar dan kehangatan matahari.  Gelap.

Aku bangkit.  Lantai emper yang sedikit lebih tinggi itu membuatku mencincing kain saat menaikinya.  Selembar jarik kawung untuk jiwa yang suwung. Jarik yang ketat membebat tubuh itu menjaga langkah tidak tergesa-gesa dan membuatku memilih berjalan hati-hati daripada wirang karena terjungkal.  Mata memicing untuk dapat melihat semuanya menjadi jelas.  Perlu penyesuaian dari terang ke gelap selama beberapa detik sebelum kemudian dapat melihat satu setel meja kursi kayu, sebuah amben dan dua lemari kayu serta dua buah lampu senthir berkaki, setinggi 1 meter.

Aku berdiri menghadap utara, tepat di depan senthong tengah.  Ini adalah satu-satunya bagian yang tidak tertutup, setidaknya sedikit tertutup dan tak rapat.  Sementara kedua senthong lain di kiwa dan tengen berpintu dan ditutup.  Senthong tengah ini hanya ditutupi slintru, partisi dari bilah-bilah papan dilukis motif cinde yang dirakit menjadi satu.  Aku mengintip dari celah, dan hanya menjumpai gelap.  Serta kosong.

Inilah yang kucari.  Ruang kosong.  Bagian paling sakral dalam rumah tradisional jawa, senthong tengah.  Lantainya sengaja ditinggikan karena ruang untuk manusia dan ruang untuk-Nya ditandai dengan level yang berbeda.  Kegelapan yang juga sengaja diciptakan dengan tanpa memberikan lubang cahaya menggiring penglihatan menjadi buta pada hal-hal yang bendawi.  Atau sebaliknya, gelap membuat penglihatan semakin tajam memindai.  Seperti sunyi yang menajamkan telinga untuk menangkap bisik terhalus, yang biasanya tak terdengar sebab gaduh yang kita buat sepanjang waktu.  Seperti juga sepi yang melahirkan kesadaran akan setiap gerak yang tengah dilakukan.

Suwung, ruang dibalik slintru itu suwung.  Sekarang hanya ada aku dan kekosongan.  Aku dihadapkan pada situasi yang membuatku kerdil.  Kesendirian.  Tidak ada kawan yang menemani dan tak ada lawan yang menyaingi.  Tak ada yang dihadapi.  Lalu apa? Manusiawiku menjadi luruh dalam dudukku simpuh.  Kekosongan menghadirkan-Nya begitu nyata. 

Senthong tengah yang slintru-nya sudah dibongkar, menjadi ruang terbuka dan kini dipakai untuk Sholat

------------

Imajinasi dan perasaan lebay yang campur aduk saat terkesan dengan Senthong Tengah sebuah rumah tradisional Jawa di Kotagede.  Ruang ini sudah dihilangkan atau dialihfungsikan, tidak ada yang menggunakannya lagi sesuai makna saat ruang ini dibangun dulu.

Senthong tengah merupakan ruang inti dari ndalem ageng.  Tidak digunakan untuk tidur atau kegiatan apapun.  Dulu, ruang ini dipersembahkan kepada Dewi Sri yang akan turun memberkati panen, kesejahteraan dan keselamatan penghuni rumah. 

Senthong tengah ndalem Sopingen, Kotagede

Senthong tengah ndalem juragan perak di Purbayan Kotagede

Senthong tengah di Between Two Gates, Kotagede

Senin, 03 Juni 2013

Deja vu dengan mainan tradisional Mbah Joyo Pandes

Kitiran/kincir

Dalam sekian puluh tahun perjalanan hidup, kita selalu mengalami perjumpaan juga perpisahan.  Kita selalu menemui perjumpaan-perjumpaan dengan apapun setiap saat.  Dan disadari ataupun tidak, banyak hal pula telah lepas dari kehidupan kita.  Datang dan pergi.  
Mari kita menengok ke belakang, sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu.  Saat kanak-kanak, mainan adalah bagian yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan kita.  Benda-benda yang wajib ada menyertai pertumbuhan kita.  Sebab inilah media pembelajaran yang luar biasa.  Banyak dari kita yang tak ingat lagi begaimana riangnya menjumpai mainan baru dan bagaimana sedihnya ketika mainan itu rusak atau hilang. 

Masih ingat mainan apa yang dimiliki saat itu? 

Aku dan adikku memiliki masing-masing satu ember besar penuh mainan.  Karena kami berbeda jenis kelamin, maka ibuku perlu memisahkan wadahnya.  Kami bertanggungjawab atas mainan yang dimiliki, kerusakan, kehilangan, dan yang terpenting adalah pemberesan setelah bermain.  Aku tak begitu ingat mainan apa saja yang aku miliki.  Tapi yang jelas mainan pabrikan dari plastik mendominasi isi emberku.  Saat mengunjungi Dusun Pandes di Bantul, tempat mainan tradisional warna-warni ini dibuat, aku sama sekali tidak bisa mengingat apakah aku pernah memilikinya? 

Aku mungkin tak pernah memilikinya dulu, tapi aku begitu antusias saat berada di rumah Mbah Joyo Sumarto (80-an tahun).  Beliau adalah salah satu dari beberapa perempuan sepuh pembuat mainan anak-anak dari material sederhana bahkan beberapa dari bahan bekas.  
Aku sangat senang meniup bunga-bunga kincir hingga berputar.  Bahkan aku kegirangan saat angin menerobos celah-celah dinding bambu yang tak rapat itu.  Angin membuat bunga-bunga kitiran yang terpasang di dinding itu berputar semua dan menimbulkan suara sedikit berisik.  Ahh, aku bahagia memandanginya, semua berputar bersamaan.  Aku lalu menjadi trenyuh, aku pasti pernah sebahagia ini saat kanak-kanak dulu.  Seperti deja vu.

Saat itu sungguh aku seperti anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa.  Aku tergesa-gesa memilih mainan yang akan kubeli, seperti takut mainan terbaik akan diambil oleh anak lain.  Tentu saja mainan ini nanti akan kuberikan untuk gendukku, demi sebuah senyum bahagia di wajahnya.  Ada Kitiran bunga kertas, kandhang burung dari bilah bambu, payung dari kertas wajik, wayang dari karton bekas dos rokok dan susu, juga othok-othok.  Mainan terakhir aku sebut ini menciptakan bunyi memekakkan telinga.  Ada pelat seng tipis yang memukul-mukul gendang kecil dari bambu, saat pegangannya diputar.  Mainan seharga Rp 2.000 ini berhasil membuatku tertawa lebar saat memutarnya dan klothok kothok klothok .. begitu bunyinya.  Temanku yang ikut berkunjung mendelik sambil menutup telinganya.  Aku tertawa senang bisa membuatnya terganggu! 

Lalu aku merasa iri dengan anak-anak Kotagede yang pada masa Mbah Joyo masih kuat mengkayuh sepeda, bisa membeli mainannya di Pasar Legi.   Iri yang biasa timbul pada diri anak-anak karena temannya mempunyai mainan yang tak dimilikinya.  Pada saat itu mainan Mbah Joyo digelar di bawah salah satu Pohon Waru di sisi barat pintu masuk Sarlegi Kotagede.  Warna-warni dan bunyinya yang berisik pasti menarik perhatian anak-anak Kotagede yang pada tahun 80-an berusia TK atau SD.  
Lalu aku merengut saat Mbah Joyo bercerita, bahwa mainannya juga menjadi rebutan anak-anak kecil di malam Sekaten atau pasar-pasar malam.  Ahh, kenapa bapak dan ibu tidak mengajak aku serta adikku ke Sekaten waktu itu? Sungguh protes dan keirian yang konyol, khas anak-anak yang tak pantas lagi hinggap dalam pikiran orang dewasa sepertiku. 

Sesaat sebelum pulang aku meminta simbah berfoto denganku, sebagai alasan aku bisa duduk berdekatan dengannya.  Aku menempel pada tubuh tuanya, seperti seorang anak yang aleman (manja) dan merengek padanya.  Aku menyentuh keriput kulit pada tangannya yang kering.  Ada keajaiban dibuat oleh kedua tangan itu, yaitu tawa, gelak canda dan kegembiraan anak-anak. Termasuk aku, seorang dewasa yang saat itu terberkahi dengan rasa bahagia yang hanya dimiliki anak-anak.

Semoga Mbah Joyo selalu sehat dan bahagia seperti anak-anak yang tengah bermainan dengan karya-karyanya.  
Sungkem. 


Rumah Mbah Joyo Sumarto



Kitiran/kincir bunga

Wayang dari karton bekas dos rokok, susu, dll


Kandang burung dan payung fantasi

Peralatan sederhana





Sabtu, 01 Desember 2012

Pohon Mentaok

Pohon Mentaok

13 Februari 2011, adalah saat pertama kali menginjakkan kaki ke Kotagede, sebuah wilayah bekas Keraton Mataram Islam I.  Bersama dengan cerita asal muasal Ki Ageng Pemanahan membuka Alas/Hutan Mentaok, daerah wingit yang dihuni oleh bangsa jin itu aku mencari tahu, seperti apa pohon mentaok?

Di sekitar situs Watu Gilang atau Watu Cantheng yaitu dampar singgasana Panembahan Senapati, Raja I Keraton Mataram, sempat kutanyakan pada juru kunci atau abdi dalem yang bertugas saat itu.  Tapi ternyata, pohon mentaok sudah tidak ada lagi.  Pohon besar berdaun kecil-kecil yang ada di sekitar situs itu ternyata benar-benar Beringin bukan Mentaok.  

Padahal dalam hati, aku berharap bisa melihat pohon yang berusia ratusan tahun dan sangat terkenal itu.  

Bibit Mentaok
Lalu dalam kecewa aku bertanya, lagi-lagi dalam hati :
"Kenapa pohon setenar dan sepenting itu dalam sejarah peradaban manusia Jawa bisa habis tak bersisa?"

Hmmm, di Kotagede mestinya pelestarian heritage tak hanya melindungi dan mempertahankan yang berbentuk fisik, seperti situs ataupun rumah-rumah tradisional.  Vegetasi juga merupakan hal penting untuk dilestarikan, sebab pohon ini ikut menjalin cerita sejarah. 

Setelah dua tahun keluar masuk Kotagede, baru pada bulan Agustus 2012, aku menemukan pohon ini. Hasil dari setiap pertanyaan yang kusampaikan kepada para sesepuh di Kotagede mengenai pohon ini terjawab sudah.  

Sebuah pohon berdaun kecil dan jarang, dengan  batang kayu yang tidak terlalu besar tapi tinggi telah tumbuh di halaman Bangsal Duda, di dalam kompleks Masjid Mataram Kotagede.  Seorang abdi dalem menunjukkan padaku dan memberikan sebuah pohon mentaok mungil dalam polybag hitam yang disemaikannya dari biji-biji yang jatuh.

Terimakasih kuhaturkan pada beliau.


Bunga Mentaok yang jatuh di halaman Bangsal Duda



Kamis, 29 November 2012

Masjid Mataram Kotagede




Timeline :

1587 Pendirian
Bertepatan dengan tahun dimana Panembahan Senopati dinobatkan menjadi Raja Mataram Islam.  Sebelumnya, pada masa Ki Ageng Pemanahan, masjid ini masih berupa langgar yang bertempat di lokasi makam raja-raja Mataram sekarang.  Panembahan Senapati menggesernya dan membuat bangunan masjid dengan kerangka yang seluruhnya terbuat dari kayu jati dengan ditopang 4 saka guru berukuran 0,3 X 0,3 X 5 m.  Selain itu dibuat pula liwan atau ruang utama masjid dan mihrab.

1796 Penambahan serambi sisi timur oleh Kasunanan Surakarta

1856 Penambahan emper dan pawudon, serta penggantian atap sirap dengan genting.  
Tahun ini tertera di bawah kaligrafi di atap gapura.

1867 Perbaikan setelah gempa hebat

1919 Terbakar

1923 Pemugaran setelah terbakar

1926 Pembangunan pagar masjid dan pendirian tugu jam.
Dilakukan atas prakarsa Sunan Pakubuwono X dari Kasunanan Surakarta.  Tahun ini tertera pula pada tulisan di bawah kaligrafi di atap gapura.

1997 Pemasangan teraso pada liwan atau ruang  utama masjid

2002 Konservasi dengan dana dari Pemda Propinsi DIY.  
- Memperbaiki bagian-bagian yang retak dengan sistem injeksi.  
- Penggantian kayu yang rusak parah mencapai 60% diganti baru.  
- Lantai diganti dengan marmer Italia di bagian liwan dan pawestren.  
- Pelapisan dinding jagang atau kolam air yang mengelilingi serambi masjid dengan terakota.
- Penggantian dinding dan alas bak wudlu.
- Perbaikan pagar dan gapura.

2003 Pembangunan menara pengeras suara

2006 Perbaikan akibat gempa besar yang melanda Yogyakarta.  
- Patahan dan retakan di dinding diperbaiki.  
- Genting yang semula terbuat dari tanah liat diganti dengan lempeng metal yang tampak sama dengan genting sebelumnya.  Hal ini bertujuan untuk mengurangi beban berat pada struktur yang ada. - Penambahan kuncian baja yang menarik ke atas, sementara penyangga blandar dikaitkan ke struktur utama. Baja tarik ini tahan gempa karena membuat tarikan atau dorongan menjadi lebih fleksibel.  Penambahan besi-besi penyangga di tiap ujung saka guru hanya sebagai pencegahan.

2007 Ditetapkan sebagai BCB (Bangunan Cagar Budaya) Nasional 
Dengan ketetapan :
Peraturan Menbudpar PM.25/PW.007/MRP/2007 dan dilindungi oleh Undang-Undang No 5 Tahun 1992.

2012 Perbaikan kamar mandi di sisi utara masjid

Konstruksi asli : 
- Beratap tajug dengan atap tumpang sari susun 3 di masjid utama
- Saka guru dari kayu jati
- Menggunakan struktur saka gantung yang langka.  Struktur utama (bagian saka guru) ini terpisah, karena secara filososfi merupakan fokus pada satu titik utama yang mengerucut ke atas yaitu Tuhan. 
- Usuk mayung juga menuju pada satu titik
- Bagian atap juga hampir sama, secara filosofis mengerucut seperti halnya candi karena pada waktu itu masih masa peralihan dari Hindu ke masa Islam
- Dinding dari bata merah yang ukurannya lebih besar dari bata sekarang
- Tanpa semen tapi menggunakan bubuk bata merah, gamping dan pasir yang dikenal dengan bligon
- Semua dinding tanpa lepa.  Penambahan lepa dilakukan oleh Sunan Pakubuwono X.
- Lantai terbuat dari batu putih yang bisa dilihat di lantai yang ditutup kaca di bawah bedhug
- Jagang atau kolam air yang mengelilingi serambi masjid merupakan ciri khas Hindu yang masih digunakan.  Jagang ini dibuat dengan maksud agar jama'ah yang masuk ke masjid mensucikan kaki dan meluruhkan kotor dari luar


Catatan Mama :
- Perawatan oleh BPCB dilakukan secara reguler setahun sekali.
- Perawatan kayu untuk mencegah rayap menggunakan teknik yang diadopsi dari perawatan kayu di Kudus.  Dengan memakai pelepah pisang dicampur tembakau dan cengkeh yang direndam selama 24 jam. Idealnya kayu direndam tapi untuk target waktu yang mendesak, campuran ini hanya digosok-gosokkan di permukaan kayu.
- Karena telah ditetapkan menjadi Bangunan Cagar Budaya Nasional, maka setiap tindakan yang diambil dalam rangka perbaikan atau perawatan diserahkan kepada BPCB dengan pemberian ijin dari pihak pemilik masjid yaitu Kraton Kasultanan Yogyakarta dan Kraton Kasunanan Surakarta.

Workshop 29 Oktober 2012




Rabu, 28 November 2012

Sendratari : Hadeging Nagari Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat

PERS RELEASE :

KADO UNTUK JOGJA
Sendratari “Hadeging Nagari Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat”
Dilanjutkan DIALOG KADO UNTUK JOGJA

Sebagai mitra pemerintah kota di bidang kebudayaan, Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta senantiasa ingin memberikan kontribusi terhadap upaya pengembangan kebudayaan khususnya bidang Seni Tari.

Maksud dan Tujuan
1.Memberikan Kado HUT Kota Yogyakarta ke-256 sekaligus memperingati Hari Pahlawan.
2.Menyajikan sebuah pertunjukan Sendratari yang merakyat dan ada etos kepahlawanan.
3.Membangkitkan ”Spirit Kepahlawanan Jogja dalam Konteks Keindonesiaan”

PELAKSANAAN
Hari/tanggal : Jumat, 07 Desember 2012
Pukul : 19.00 Wib s/d selesai.
Tempat : Living Museum Budaya,Dolahan KG III/580 Kotagede Yogyakarta
Acara : Sendratari ‘Hadeging Nagari Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat’ dilanjutkan DIALOG Kado Untuk Jogjakarta
(kurang lebih undangan dan peserta mencapai lebih dari 175 org)

Pembicara/Narasumber Dialog Kado Untuk Jogja :
1. A.Charris Zubair (Budayawan,Ketua DKKY,Dosen Budaya UGM).
2. Indra Tranggono(Cerpenis,Budayawan).
3.Revianto Budi Santosa (Dosen UII,Arsitek,Anggota DKKY)

SASARAN
PESERTA (Umum sekitar 180an orang) terdiri dri para tamu Undangan dan simpatisan serta penonton +Media dll

HASIL YG DIHARAPKAN
Memberikan Hiburan dan Kado Untuk Masyarakat Yogyakarta pada umumnya

SINOPSIS TARI
“Hadeging Nagari Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat”.

Sendratari “padat” ini menceriterakan kisah ketika Pangeran Mangkubumi sedang bimbang dalam menerima tawaran konsep “Palihan Nagari” yang diajukan Gubernur Jenderal Nicholas Hartingh. Namun atas petunjuk tokoh spiritual Mataram ketika itu, Pangeran Mangkubumi akhirnya mau menerima tawaran tersebut. Pada akhirnya perjanjian itu ditandatangi di depan Gub. Jenderal Nicholas Hartingh. Perjanjian ini tidak semua diketahui Kolonial Belanda, terbukti masih ada orang orang Belanda dan antek antek Belanda yang ingin mengacaukan masyarakat di wilayah Ngayogyakarta. Namun akhirnya prajurit Pangeran Mangkubumi mampu mengatasinya.Sebagai ungkapan syukur, maka kawula Ngayogyakarta menyambut dengan suka cita.

Pen. Jwb./Pimprod. : A.Charris Zubair;
Sekr.Prod: Hery Asmara;Pimp.
Artistik: Bekti Budi Hastuti;
Naskah: Mustofa W. Hasyim;
Sutradara : Kuswarsantyo;
Penata Tari: Widodo Kusnantyo;
Penata Iringan : Agung Harwanto;
Penata Busana: Iriantiningsih;
Pendukung Tari dan Karawitan : Komunitas Seniman Tari Kota Yogyakarta;
Tari pimpinan : Widodo Kusnantyo;
Karawitan pimpinan : Agung Harwanto.
Produksi 2012: Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta
Facebook: Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta;
Web: www.dkk.or.id

Kabar ini diberitakan oleh @HERY ASMARA
(SEKRETARIS PANITIA/SEKUM DKKY)










Selasa, 27 November 2012

Langgar Dhuwur Boharen, Kotagede

Langgar Dhuwur Boharen tampak dari dalam
Rabu, 5 September 2012
Adalah saat pertama mengunjungi sebuah rumah tradisional Jawa yang istimewa di Kotagede ini.  Istimewa sebab strukturnya yang masih megah meski berusia ratusan tahun dan istimewa sebab merupakan salah satu dari dua rumah tradisional di Kotagede yang masih memiliki Langgar Dhuwur.
Saat pertama itu adalah malam hari, sehingga bisa merasakan nuansa Jawa yang tenang, sunyi dan misterius karena remang-remang.

Jum'at, 7 September 2012

Adalah kesempatan kedua mengunjungi sekali lagi rumah yang dibangun tahun 1860.  Bertemu dengan Pak Achmad Charris Zubair pemilik rumah ini yang menjabat sebagai Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogya yang menerima kami -rombongan peserta workshop heritage Jepang-Kotagede- dengan ramah.  

Beliau menerangkan bahwa konsep rumah tradisional Jawa yang diwarisinya ini masih lengkap mengadopsi tradisi Hindu yang diwujudkan dalam Tri Hita Karana.  Konsep tiga ruang yang melebur menjadi satu kesatuan harmoni yang terdiri dari Pahyangan, Palemahan dan Pawongan.  


Langgar Dhuwur Boharen tampak dari luar
Pahyangan, berasal dari kata Hyang atau Tuhan.  Diwujudkan dalam sebuah ruang tertinggi yang menguhubungkan manusia dengan Tuhannya, terletak di paling depan dan paling tinggi (dhuwur) dibanding bangunan rumah lainnya.  Dan karena pemiliknya menganut ajaran Islam maka ruang penghubung manusia dengan penciptanya ini diwujudkan menjadi Langgar Dhuwur. 

Palemahan, berasal dari kata lemah (bhs jawa) yang berarti tanah.  Ini melingkupi lingkungan di sekitar rumah termasuk vegetasinya.


Pawongan, berasal dari kata wong yang artinya manusia.  Konsep ini diwujudkan menjadi ruang tinggal di mana manusia melakukan aktifitas kesehariannya yaitu rumah.

Rumah tradisional Kotagede biasanya terdiri dari pendapa, pringgitan (ruang antara), ndalem  (rumah utama) yang terdiri dari senthong kiwa/kiri, senthong tengah dan senthong tengen/kanan, kemudian ada gandhok (rumah samping), gadri (rumah bagian belakang), pawon (dapur) dan pakiwan (kamar mandi).  Jelas bahwa dalam rumah Jawa bagian terdepan bersifat sangat publik dan makin ke dalam ruang-ruangnya makin privat. 


Kentongan
Senin, 29 Oktober 2012

Pada hari itu, kesempatan ketiga mengunjungi Langgar Dhuwur  yang terletak di Kampung Boharen, Kelurahan Purbayan ini berkaitan dengan workshop heritage bersama BP3 Prambanan.  

Pihak BP3 dengan dana dari APBN Perubahan tahun 2012 sedang melakukan perbaikan Langgar Dhuwur dan Ndalem dengan pengerjaan bagian lantai, genteng dan beberapa dinding.

Bangunan Langgar Dhuwur ini masih berstatus Warisan Budaya belum menjadi Benda Cagar Budaya dengan wilayah administrasi Kota Yogyakarta.  Beberapa penghargaan telah diterima oleh rumah ini, seperti yang diceritakan Pak Charris -demikian beliau secara akrab dipanggil- antara lain :

  • SK Gubernur tahun 1999 yang menetapkannya sebagai Bangunan Warisan Budaya
  • Nominator UNESCO Award
  • Penghargaan dengan pemberian potongan pajak  dengan hanya membayar PBB sebesar 10%
  • Penghargaan dengan bantuan dana dari APBN Perubahan thn 2012 untuk direhab.

Mihrab Langgar Dhuwur Boharen

Pak Charris Zubair pemilik Langgar Dhuwur Boharen, Kotagede (menunjuk)








Jumat, 09 November 2012

Dalem Proyodranan, Kotagede (built in 1857)




Introduce Preservation of House of Proyodranan by the owner, Dr. Nasir Tamara

On Prambanan Workshop Oct 29 - Nop 3, 2012 : Japan-Indonesia International Exchange and Capacity-building Project for Preservation of  Historic District and its Adaptive Improvement in 2012

Pendapa nDalem Proyodranan

History:
  • Former owner : Mr Proyodrana, a very rich Kalang Businessman who owned the first Roll Royce in Yogyakarta
  • Built in 1857
  • Used as residence, convention center, hotel, education center
  • Severely damage by 2006 earthquake
  • Was in the market for a decade
Gandhok Kiwa/Kiri
  
 Landmark of Kotagede
  • People was worried of its future : they loved the Dalem (mansion) and want to keep it
  • 5000 people were married there
  •  Center for wayang (puppet shadow), javanese music (gamelan), and dance performance
  • Movies were made : Biola Tak Berdawai
 
Senthong kiwa, tengah dan tengen (kiri, tengah dan kanan)

Why I bought it?
  • Love yogya, its people, its culture
  • Plan to establish in Yogya, Need a residence
  • Architect friends  suggested heritage house
  • Place of memory of Javanese people 
  • Make it as a community, cultural and art center and a living museum of Javanese culture in-situ


Gadri

Support from the people
  •  Expressed in media and social media
  • Support from neighbors and local official
  • Support from architect and heritage community
  • Support from UGM and artists
  • Support from the King of Yogya

  What do I do
  • Physical condition is so bad, a new EQ would destroy the house totally
  • Ask my heritage architect friends to help
  • Record using computer the detail of the houese, materials and the land test in lab
  • Find a contactor  and skilled workers
  • Immediately restore, reinforce the structure of the house so it will be much stronger than before

 
Gandhok tengen/kanan akan difungsikan sebagai Art Gallery


How do I restore the Dalem

  • Using similiar materials : blegon, woods, tiles and roof tiles and old teak wods
  • Introducing green and clean energy : solar panel
  • Strengthening structure (used steel structure when necessary), replace worn-out teak wood
  • Restore if we can, avoid replacing
  • Used all materials fron the residence

Buku Perencanaan


What do I need to finish the major renovation?
  • Credit from Bank to finish perfectly the renovation and to buy furniture and other objects
  • Tax incentive from government
  • Would be grateful if international institutions or community can help

Catatan Mama : 

- Kerusakan bagungan sebelah kiri separuh rubuh, bagian belakang rumah dinding-dindingnya pecah.  Bangunan samping kanan depan (garasi) juga rubuh.  Rangka dinding semua telah ditanami kolom-kolom besi untuk penguatan.
- Ada 2 tim yang menangani konservasi : Tim Perencana dan Tim Pelaksanan. 
- Tim Perencana yang terdiri dari ahli arsitektur dan BPCB mengambil foto kondisi existing sebelum konservasi. Mereka juga mengambil sampel bahan ubin, kaca, dinding serta cat, lalu di tes dan dibuatkan formula yang akan dipakai dalam perbaikan rumah ini di Laboratorium Balai Konservasi Borobudur.
- Tim Pelaksana menuruti konsep pelestarian dimana bangunan utama akan dipertahankan asli.  Antara lain Pendapa, Gandhok Kiwa & Tengen, Pringgitan, Kamar dua di belakang, Gadri serta bangunan belakang setelah taman yang disuga untuk membatik dipertahankan asli.
- Material juga diusahakan menggunakan bahan yang sama dengan yang dipakai rumah ini ketika dibangun.  Misalnya penggunaan bligon untuk tembok dan juga campuran ubin yang tanpa semen, tapi hanya campuran tumbukan bata merah, pasir dan gamping.
- Pengerjaan telah berlangsung 9 bulan dan baru sampai tahap 30% sebab detil dan aturan serta kaidah pelestaraian berusaha diterapkan semaksimal mungkin.
- Pemilik telah mempersilakan bagi siapa saja dari bidang apapun untuk datang dan belajar dari konservasi yang tengah dilakukan ini.  Tersedia foto atau dokumentasi setiap tindakan yang diambil sehingga bisa menjadi laboratorium bersama pelestarian bangunan heritage.








Selasa, 06 November 2012

Workshop Haritage Indonesia-Jepang

Japan-Indonesia International Exchange and Capacity-building Project 
for Preservation of Historic District and Its Adaptive Improvement in 2012


Workshop Schedule at BPCB Office in Prambanan :

Day 1 Monday, October 29, 2012
- Opening (Explanation abaout the schedule of workshop)
- Visit restored mosque and restored house of Mr. Charis Zubair in Kotagede

Day 2 Tuesday, October 30, 2012
- Earthquake Disaster Prevention of Architectural Heritages, Dr Hanazato
- Visit Prambanan Temple
- Case Study of Historic District of Japan, The Historic Villages of Shirakawa-go and Gokayama, Dr Uekita
- Activities conducted by the local government to preserve the townscape of Hoi An, Dr Utsumi
- Lecture on the conservation system of Kotagede, Mr. Prijo Mustiko Forum Joglo

Day 3 Wednesday, October 31, 2012
- A Repair Planning for Cultural and Architectural Properties in Japan - Focused on Surveys, Mr Kazuhiko Nitto
- Workshop in House of Proyodranan

Day 4 Thursday, Nopember 1, 2012
- Introduce of Preservation house in Kotagede, Dr Nasir Tamara
- Group Work in 3 Groups to select buildings to be repaired and determine the preservation area

Day 5 Friday, Nopember 2, 2012
- Group Work (in three groups) make management plan 

Day 6 Saturday, Nopember 3, 2012
- Presentation from participants and discussion 
- Closing




Certificate of Attendance, Participants received a Certificate of Attendance after attending all the sessions according to the workshop.



 List of Academics and Assistant :
- Dr. Yasufumi Uekita, University of Tsukuba, Heritage Management (Project Leader)

- Mr. Kazuhiko Nitto, Tokyo University of The Arts, Architectural History, Conservation

- Dr. Sawako Utsumi, Showa Women's University, Architectural Planning

- Dr. Toshikazu Hanazato, Mie University, Construction

- Ms. Masami Nishimura, University of Tsukuba, Assistant




 Workshop on Preservation Management and Adaptive Improvement in Kotagede - Historic District in Yogyakarta, Indonesia

Date : October 29 - Novemper 3, 2012
Location : Preservation of Cultural Heritage Office of Yogyakarta, and Kotagede Historic District, Indonesia

Presentation :
Activities conducted by the local government to preserve the townscape of Hoi An, Viet Nam by Dr Utsumi
Visit restored house of Mr. Charis Zubair in Kotagede
 Visit restored mosque in Kotagede
 Visit Prambanan Temple
 Workshop in House of Proyodranan

 

Warung Jawi Kotagede : Wujud Pelestarian Pusaka Mandiri



Sebuah pendapa di Kotagede telah disulap menjadi sebuah warung unik dengan nama Warung Jawi.   Di bawah naungan atap disangga 4 saka guru penopang tumpang sari, sebuah senja terasa lebih syahdu, ditemani sepiring gorengan, sebungkus emping goreng dan dilengkapi secangkir kopi atau segelas bajigur.  Malam terasa penuh dengan hidangan nasi brongkos atau nasi rawon lengkap dengan sebutir telur asin dan kerupuk udang.
Secangkir kopi yang juga unik karena seduhan dari racikan kopi resep rahasia keluarga yang sungguh berbeda dengan kopi dari tempat lain.  Kopi Mocca Amboi, Kopi Legit Priangan, Kopi Rempah Jawi, dan Kopi Bali Harum adalah racikan kopi andalan warung ini.  Mencecapnya dengan memandang nDalem atau rumah tradisional dari kayu yang berwibawa membawa nuansa Njawani.

Ya, Warung Jawi menempati emper/teras dan pendapa nDalem Sopingen.  Sebuah rumah milik Raden Sopingi yaitu seorang pejabat representasi keraton Surakarta di Kotagede.  Pada pada masa awal kebangkitan nasional, pendapa ini pernah menjadi pusat ruang publik egaliter, dimana tokoh-tokoh penting dari berbagai organisasi nasional berpidato di sini.  Sebut saja HOS Cokroaminoto, Samanhoedi, KH Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara, bahkan para pemimpin komunis seperti SEmaun, Alimin dan Muso. 

Tak heran jika masyarakat, LSM dan Pemprop DIY memberi perhatian lebih pada bangunan ini, mengingat betapa banyak sejarah telah terjadi di antara tiang-tiang pendapa berbentuk joglo ini.  Sayangnya, pendapa asli dijual oleh ahli waris keluarga pada tahun 2000-an dan hanya menyisakan lantainya.  Pada tahun 2011, Bappeda Prop DIY mendirikan kembali pendapa dengan bentuk yang berbeda, yaitu model pesisiran yang diangkat dari Pati.
 
Sebuah warisan berbentuk fisik terkadang menjadi dilema dalam pelestariannya. Perawatan bangunan kayu yang rumit dan relatif mahal sering menjadi beban bagi pewarisnya.  Desakan ekonomi yang menjadi tantangan tersendiri bagi pewaris untuk tetap mempertahankan di tengah keterbatasan atau menjualnya demi kehidupan yang tak lagi secerah pada masa pendapa ini berjaya.  Seiring dengan mundurnya industri perak di Kotagede, banyak pemilik rumah-rumah tradisional yang rata-rata juragan perak terpaksa menjualnya untuk bertahan hidup atau menjadikannya modal untuk usaha yang lain.  
Masalah bagi waris juga menjadi masalah yang khas terjadi di sana.  Pada saat pembagian warisan, pendapa yang knock-down itu mudah untuk dibagi atau dijual lalu hasilnya dibagi.  Sebab pendapa adalah bagian rumah yang paling mudah dijual-belikan.

Tantangan-tantangan ini menjadikan para penggiat heritage yang concern di Kotagede menetaskan ide yang memungkinkan pewaris pendapa mampu bertahan hidup bahkan bisa merawat bangunan kayu secara mandiri, tanpa perlu bantuan dari pihak swasta/LSM atau pemerintah daerah.  Salah satu yang sedang diujicobakan adalah pemanfaatan Pendapa Sopingen untuk Warung Jawi yang menyediakan brongkos, rawon dan segala macam wedang khas Kotagede.  Diharapkan pewaris bisa mendapat penghasilan untuk hidup sehari-hari dan untuk perawatan atau pelestarian benda pusaka warisan yang telah menjadi bangunan cagar budaya ini. Warung ini juga menjadi rintisan untuk museum hidup (living museum) yang menyimpan banyak sejarah.

Catatan Mama :
- Alamat : Jl Mondorakan, Klaster Dalem Sopingen KG 2 No 859 Kotegede, Jogjakarta 55127
-  INFO : Bp. Jenthot, Mobile: +62 81328645900
- Warung Jawi buka setiap hari kecuali Jum'at mulai pukul 05:00 s/d 22:00 PM 
- Menuju Kotegede jika dari Jogjakarta : Bus TransJogja Jalur 3A dan 3B, Andhong, Becak, Ojek