Tampilkan postingan dengan label Jajanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jajanan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Januari 2015

Ukel Pakis di Meja Makan dan Papan Ukir

Bilah pintu sebuah pura di Bedugul, Danau Bratan, Bali

Pada bilah pintu di sebuah pura di pinggir Danau Bratan, aku melihat paduan gambar antara mitologi dan fakta. Wujud-wujud yang tak bisa dijumpai secara indrawi tapi diyakini ada, bersanding dengan hal-hal keseharian yang nyata ada teraba. Bunga, daun, sulur pakis tak pernah absen hadir dalam kisah yang ditatah di bilah kayu atau bongkah batu.

Wujud-wujud mitologis selalu kubiarkan tetap menjadi milik misteri, sebab dengan begitu mereka justru akan selalu memikatku. Sementara bunga dan daun tak kalah menggairahkan untuk dicari mengapa ornamen-ornamen itu selalu hadir riuh tak menyisakan sepi di bidang karya?

Rabu 30 Desember 2014, siang begitu basah oleh hujan deras yang turun sebentar. Beberapa penggal setapak di pinggir tebing itu tidak hanya licin, tapi juga ringkih oleh longsor karenanya.

Tempat-tempat pilihan para pertapa itu tidak mudah. Naik-turun, kadang menyempit dengan hanya menyisakan sedikit ruang bagi tubuh untuk merambat rapat pada dinding.
Alas kaki harus dilepas untuk bisa telanjang dan merasakan kondisi tanah di telapak. perlu cengkeraman kaki dan kadang butuh merenggut rumput atau batang yang tumbuh di dinding tebing untuk menjaga tubuh tak tergelincir ke jurang. Tentu saja tidak memilih tanaman pakis untuk pegangan, sebab akar serabutnya yang lemah. 

Candi Tebing, Tembuku, Bangli - berkawan pakis
Pakis, adalah tanaman yang syarat hidupnya terpenuhi di wilayah tropis lembab seperti di sepanjang jalan menuju Candi Tebing Tembuku. Ia yang hanya bisa hidup di tanah dengan kandungan air banyak dan ruang yang cukup tersembunyi dari sengatan matahari, membuatnya tumbuh subur di seluruh pelosok Bali.

Pakis, tidak hanya hadir di meja makan dalam bentuk plecing, tumis, urap, atau sayur bersantan, tetapi ia juga meramaikan papan ukir. Ukel-nya yang luwes dan elok itu tak pernah memberi ruang untuk kosong -ia yang begitu intim dalam kehidupan sehari-hari orang Bali


Beberapa ikat pakis dijual


Senin, 10 Juni 2013

Gerobak kopi di Bangkok




Jalanan Bangkok sangat padat siang itu.  Siang itu?  Tidak hanya siang itu aku yakin tiap hari kota ini pasti selalu hiruk pikuk. Kota ini sangat sibuk dengan perpindahan manusia-manusianya dengan sepeda motor, tuk-tuk, mobil, bis, skytrain, sampai kapal yang menyeberangi sungai yang membelah Bangkok, Chao Phraya.  Suasana mirip kota-kota besar di Indonesia, ramai dan serba tergesa, meskipun jarang terdengar klakson yang mengagetkan dan menyakitkan telinga.  Ya, Bangkok memang berbeda dengan kota-kota lain mengenai klakson ini.  

Dan di siang yang hiruk pikuk, Bangkok tetap menyediakan tempat-tempat sederhana di pinggiran jalannya. Gerobak buah potong, gerobak jus buah dan gerobak kopi.  Dua jenis gerobak yang disebut pertama itu sangat menyelesaikan masalah yang terkait dengan panas dan bisingnya kota Bangkok.  Tapi gerobak kopi?  Menikmati segelas atau secangkir kopi panas di hari yang terik tentu bukan pilihan yang asyik.  Tapi, Bangkok memiliki apapun yang dibutuhkan oleh pengunjungnya.  Siang yang panas di kota sesibuk Bangkok akan terasa sedikit melegakan jika dihadapi dengan es kopi.  Ya, es kopi adalah minuman paling favorit dari sebuah gerobak kopi yang banyak tersebar  di segala penjuru kota itu.

Gerobak kopi di seberang Grand Palace, Bangkok


Kopi yang disajikan dingin dengan es batu bisa jadi memang untuk menjawab kondisi kota Bangkok yang panas.   Efeknya tentu menyegarkan.    Masyarakat setempat biasa menikmati es kopi hitam dengan gula atau dengan susu kental manis, ini racikan yang umum dan dapat ditemui di manapun.   Yup, di manapun.  Sebab gerobak kopi yang menyediakan fresh coffee atau yang bukan kopi instan ini mudah sekali ditemui di sudut-sudut kota Bangkok.  

Fresh Coffee


Seperti juga negara-negara di Asia Tenggara lainnya, Thailand adalah negara peminum teh.  Kebudayaan minum teh lebih tua ketimbang kopi.  Thailand menjadi lebih terbuka dengan kopi saat terseret arus ‘gelombang kopi kedua’ yang melanda secara global.  Kopi yang semula dinikmati di lingkungan domestik atau di dalam rumah dikatakan gelombang kopi pertama.  Kondisi ini bergeser ketika komoditas kopi melonjak saat biji hitam yang mengandung kafein ini ‘keluar’ dari statusnya yang domestik menjadi  minuman sosial.  Kopi hadir menjadi kawan dalam interaksi sosial, dinikmati secara komunal di tempat-tempat publik, yang kemudian kita kenal sebagai kedai kopi.   Gejala ini menggantikan bir dan anggur di negara-negara Eropa.  Kebutuhan akan biji kopi menjadi berlipat dari angka yang tadinya cukup untuk memenuhi kebutuhan kopi di rumah-rumah, kemudian meningkat harus cukup untuk memasok kedai-kedai kopi yang mulai tumbuh.  

Thailand tidak mengalami tanam paksa Van der Bosch pada masa kolonial seperti Indonesia.  Tak ada kisah kelam dalam secangkir kopi di Thailand.  Persentuhan kopi dengan Thailand terlihat lebih manis ketimbang dengan yang terjadi di Nusantara.  Hubungan intim antara Thailand dan kopi  dimulai belum lama, sekitar tahun 1970-an.  Kondisi geografis Thailand merupakan ladang bagus bagi pengembangan kopi untuk menggantikan opium.  Dalam hal ini, PBB turut campur dalam studi kelayakan penggantian opium dengan tanaman lain, dan kopi menjadi kesimpulan yang layak untuk perkara itu.  Pemerintah, dalam hal ini The Royal Project juga menggunakan penanaman kopi ini untuk menyikapi deforesisasi oleh beberapa kelompok etnis lokal yang masih menjalankan pertanian berpindah.  

Sejak itu, kopi ditanam secara massal di dataran-dataran tinggi Thailand untuk sebagian diekspor memenuhi permintaan pasar global dan sebagian lagi untuk memenuhi kebutuhan domestik.  Biji-biji hitam beraroma harum ini bergulir dari pegunungan sejuk di belahan utara dan selatan Thailand, terombang-ambing di timbangan para tengkulak, diolah dan dikurung dalam kemasan-kemasan bermerk, mengendap di kedai-kedai kopi mewah atau gerobak-gerobak kopi pinggir jalan, sebelum akhirnya diracik lalu berada di genggaman para penggemarnya dengan segala cara, gaya dan suasana.  

Thung Tom Kafae, saringan dari kain


Seperti siang itu, secangkir kopi hitam kupesan khusus tanpa susu serta tanpa es kepada ibu peracik yang menjajakan kopi seduhannya di badan trotoar Khaosan Road.   Sambil menyaring bubuk kopi dengan thung tom kafae -semacam saringan kain, diceritakannya padaku bahwa biji kopi itu berasal dari Chiang Rai, pegunungan di utara yang menghasilkan arabika unggulan.  Aku mencermati setiap gerak tangannya dalam menyiapkan kopi pesananku dengan kusyuk.  Sebab dari kedua tangan dan senyum di bibirnya itu secangkir kopi nikmat akan menjadi berkahku siang itu.  Setelah membayarnya dengan koin Baht, aku terima secangkir kopi hitam di cangkir kertas tahan panas dari tangannya.  Kami bertukar senyum paling manis yang kami miliki sebelum si ibu sigap membuat kopi pesanan berikutnya dan aku melanjutkan menelusuri jalanan di Khaosan Road.  Well ya, Bangkok adalah land of smiles, berada di sana dengan secangkir kopi tentu selalu menerbitkan senyum.

Biji kopi dari Chiang Rai


Sumber :






Selasa, 04 Juni 2013

Milas Resto : Menu Vegetarian dan Organik

 Milas Resto
  • Jl Prawirotaman IV 127 Jogjakarta
  • 0274 742 3399
  • Sore - Malam
  • Selasa - Minggu
  • Menu vegetarian & Organik
  • Souvenir Shop
  • Books Rental









Lonely Planet, kitab suci bagi pejalan kaki dengan ransel itu mengulas Milas Resto sebagai ' a secret garden restaurant'.  Memang benar, resto ini seperti tempat rahasia, sebab letaknya tidak di pinggir jalan besar Prawirotaman, tapi tersembunyi di salah satu gang-nya.  Penataannya menyerupai taman, gazebo-gazebo dari bambu dan beratap rumbia menyebar di antara pohon-pohon berkarpet rumput yang segar.  Yup, Milas resto is a secret garden restaurant.  

Milas menjadi referensi yang penting bagi para vegetarian.  Semua menu bebas daging.  Tukang masaknya mengganti daging dengan tempe, tahu atau kentang.  Misalnya steak daging diubah menjadi steak tempe.  Meskipun vegetarian, resto ini masih menyediakan telur di dalam daftar menunya.  Ada omelet yang berisi kentang dan sayuran atau nasi goreng sayur dengan tambahan telor ceplok.  Jadi para veggie yang alirannya tidak begitu keras, artinya masih mengkonsumsi telur, resto ini pilihan yang tepat.

Steak Tempe


Resto ini menggunakan bahan atau sayuran organik, sehingga harga per menu agak mahal dibanding dengan resto-resto sejenis. Ada sudut kecil di dekat kasir yang men-display beras dan kacang-kacangan organik untuk dijual.  Jelas, resto yang dimiliki oleh orang asing ini memiliki konsep berbeda dan sangat mendukung gaya hidup sehat para pengunjungnya.  Mereka juga meniadakan MSG/vetsin dari daftar bumbu yang dipakai untuk memasak setiap menu.  Jadi jangan kaget jika lidah tak menemukan sensasi gurih, kecuali hanya asin, manis, asam atau pedas apa adanya. 


Potatoes Plate

Kesempatan pertama datang ke restoran ini saat acara perpisahan seorang teman dari Amerika yang akan pulang ke negaranya.  Kali kedua datang ke restoran ini adalah saat seorang teman dari Singapura datang dalam rangka riset untuk penulisan novelnya.  Teman yang terakhir ini tidak memakan daging atau vegetarian murni karena dia adalah perempuan berkasta Brahmin.  Kasta tertinggi di India yang biasanya tidak memakan daging dan tidak meminum alkohol.  

Ya, resto ini menjadi favorit tidak saja kaum vegetarian tapi juga para bule.  Jumlah mereka terlihat selalu lebih banyak dibanding pengunjung lokal.  Mungkin karena letaknya masih di seputaran Prawirotaman yang terkenal sebagai kawasan turis utama di Jogjakarta dan mungkin juga karena telah diulas dalam Lonely Planet.  Buku yang menuntun para backpacker seluruh dunia ke mana saja, termasuk ke gang sempit tempat dimana Milas Resto bersembunyi.

Jagung balado



Seperti umumnya kawasan turis di seluruh dunia yang selalu menyediakan toko buku (bekas & baru), resto ini memiliki sudut lain di belakang kasir yang menyimpan koleksi buku-bukunya.  Jamak diketahui, pejalan biasanya membawa satu buku yang menjadi pendamping selama di mobil, kereta, pesawat atau moda transportasi apapun.  Buku-buku yang disediakan Milas Resto kebanyakan berbahasa asing, karena memang diperuntukkan para pejalan dari luar negeri.  Tentu saja buku berbahasa Inggris dominan menguasai rak-raknya ketimbang bahasa asing lainnya.  

Book Rental

 Di pojokan lain, souvenir shop bisa menjadi tujuan favorit pengunjung.  Mereka menyediakan berbagai macam souvenir khas Jogja yang berbahan lurik, batik, gerabah dan lain sebagainya.  Desainnya unik dan pengerjannya rapi, sangat berkualitas dan sungguh membuat kalap ingin belanja.  Seperti waktu itu, sekali datang, satu tas dari lurik warna ungu, satu tas batik lawasan, satu buku catatan dari kertas daur ulang, tiba-tiba tak bisa lepas dari tanganku, lalu masuk tas belanjaan begitu saja.  
Ohh tidaaaaak ..

Souvenir Shop











Minggu, 02 Juni 2013

Keong Rebus : camilan Cambodia

Keong rebus dengan bumbu daun serai dan daun jeruk


Pukul 2 siang aku meninggalkan Candi Bayon di kompleks Angkor Thom dengan diikuti 200 senyum Raja Jayawarman VII.  Menegelilingi Face Towers, menara dengan 200 wajah terpejam dan bibir tersenyum itu membuatku kelaparan.  Minuman bekal air mineral compliment dari hotel juga sudah habis kutenggak.  Tak ada pilihan lain selain mencari warung, selain untuk mengistirahatkan kaki yang mulai terasa panas di telapak.  

Sepeda kukayuh menjauh, meninggalkan senyum-senyum abadi di belakangku.  Guardian Post, deretan candi berbentuk menara berbahan batu kemerahan kulewati begitu juga satu pohon besar yang rindang menuju gerombolan rumah-rumah kayu sederhana di kejauhan.  Setelah melewati lapangan rumput yang bersih dan hijau menyegarkan, berbelok ke kiri, lalu berhenti di dekat satu pohon di sekitar warung-warung makan untuk merantai sepeda sewaan.  

Kupilih warung makan yang paling dekat dengan runtuhan candi tanpa atap.  Rasanya mewah sekali bisa menikmati makan siang dan memandang candi dalam waktu bersamaan, dari jarak yang sangat dekat. Warung ini termasuk sepi pengunjung, mungkin karena sudah lewat jam makan siang.  Nasi goreng tak lama datang setelah aku memesannya. Sepiring nasi yang digoreng dengan rasa sedikit pedas ditambah nanas potong, tak terbiasa dengan tambahan nanas, tapi segar juga rasanya.  

Selesai menghabiskan seporsi nasi goreng, aku tidak langsung beranjak, aku perlu mengasokan kaki sambil menikmati tingkah laku penduduk lokal yang berinteraksi dengan para tamu yang mampir di warungnya.  Saat itulah, sebuah sepeda motor datang memasuki area warung dan mengacaukan beberapa penduduk yang tadinya bergerombol di salah satu meja di bawah pohon.  Penjual makanan.  Mereka merubung lelaki yang baru tiba dengan bawaannya di jok belakang sepeda motornya.  Aku penasaran, lalu bergabung dengan mereka.

Astaga! Penjual keong rebus! 

Ratusan mungkin ribuan keong ditaruh dalam wadah seperti tampah dari anyaman bambu.  Untuk menjaganya tetap hangat, wadah diletakkan di atas kompor yang dilindungi kaleng roti.  Mungkin di dalamnya ada panci untuk merebus air yang uapnya digunakan untuk membuat keong selalu hangat.  Sebuah kaleng bekas susu kental manis dipakai untuk menakar keong yang akan dibeli.  Persis seperti membeli kacang godhog.

Perempuan yang membuatkanku nasi goreng juga ikut membeli, satu plastik.  Aku mengikutinya kembali ke warung, duduk di salah satu kursi dan sekejap anak-anak dan tiga perempuan lain yang membantu di warungnya, merubung seplastik keong rebus itu.  Aku melihat mereka asyik sekali, mengorek daging keong dari cangkang dengan ujung tusuk gigi.  Menambahkan sambal sebelum memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya.  Melihat ini, mentalku seperti diuji.  

Ada rasa mual di perutku saat melihat daging yang tertancap di ujung tusuk gigi itu masuk ke dalam mulut.  Sebab aku tak bisa melupakan bagaimana rupa keong saat maih hidup, tubuhnya yang berlendir dan menggendong rumah itu berjalan pelan merambat tembok. 
Setengah mati aku menahan jijik demi kesopanan dan menghormati kesukaan mereka saat perempuan pemilik warung itu menawariku untuk mencobanya.  Aku serasa mau muntah saat satu buah keong disodorkan padaku.  Tentu saja aku menolak, daripada sepiring nasi goreng yang kubayar agak mahal 5 dollar dengan sebotol coke dingin keluar semua dari perut.  Muntah.
Aku hanya tersenyum kepada mereka dan mengucapkan terimakasih, tapi aku menemani mereka menghabiskan seplastik keong rebus untuk menghormati undangannya bergabung. 

Setelah membayar lagi untuk sebotol air mineral ber-merek 'Bayon', aku pamit kepada mereka.  Melanjutkan mengkayuh sepeda menuju Candi Elephant Terrace, yang tak jauh dari situ.  Sepanjang jalan aku menyadari bahwa dalam perjalanan ujian bisa bermacam-macam bentuknya.  Tidak hanya keberanian menjadi asing, menjadi nobody, menjadi hilang, tapi juga keberanian untuk melihat semua situasi apa adanya.  Saat kondisi normal, aku berada di Indonesia, aku tentu menilai bahwa itu makanan menjijikkan dan tak pantas dikonsumsi.  Tapi di tanah orang, saat segalanya berbeda dengan yang selama ini aku kenal, aku tak bisa menghakiminya.  Ini kebiasaan mereka, ini sesuatu yang wajar adanya.  Mestinya aku sebagai pejalan menerimanya tanpa menghakimi.  

Di dunia ini, tempat di mana manusia terpisah-pisah oleh garis-garis alam maupun politis non-alam, sungguh beragam gaya hidupnya.  Aku yang baru melihat sangat sedikit dari keberagaman itu merasa malu saat tanpa sadar menilai dari bermacam-macam orang itu dengan baik-buruk, bagus-jelek, enak-tidak enak dan lain sebagainya.  Kita tidak bisa melihat segala sesuatu dari sudut kita.  Dari jalanan, aku mendapat pelajaran bahwa sungguh keberagaman itu ada dan yang berbeda denganku itu akan selalu baik-baik saja meskipun terlihat tidak sesuai menurut mataku.  

Di perjalanan pulang menuju penginapan di pusat Siem Reap, ternyata aku memang banyak menemui penjual keong rebus di pinggir jalan.  Aku lantas tahu bahwa ini memang kebiasaan dan favorit mereka, menjadikan keong yang banyak muncul sebagai camilan. 

Setiap tempat, setiap detik dan setiap pribadi adalah unik.  Aku menghargainya.

Penjual keong rebus

Perempuan pemilik warung nasi goreng dan teman-temannya

Seplastik keong rebus, habis dalam sekejap












Jumat, 24 Mei 2013

Lele Nggeneng 'Mbah Marto'

Lele asap dibumbu mangut.  Ada dua jenis, digulung dan satunya ditusuk pakai bambu, jadinya lurus-lurus.


Sepiring nasi hangat dan seekor mangut lele.  Segelas es teh manis dan se-lodhong kerupuk.  Adalah makan siang yang dahsyat, di tempat yang luar biasa dan dimasak oleh simbah yang istimewa dengan kisah masa lalu yang beliau tuturkan menemaniku makan. 

Saat orang-orang bosan dengan makanan yang mudah dijumpai sehari-hari, tempat ini bisa menjadi alternatif pilihan yang menggiurkan.  Tempatnya mblusuk.  Sungguh warung lele milik Mbah Marto ini menjatuhkan syarat ideal keberhasilan sebuah usaha tentang lokasi strategis.  Umum diketahui, bahwa lokasi yang mudah dijangkau akan menentukan sukses tidaknya sebuah usaha.  Dan ini dijungkir balikkan oleh Mbah Sastro.  Beliau tidak memindahkan warungnya ke pinggir jalan agar orang mudah menjangkau dan menggoda orang-orang yang lalu lalang di sepanjang jalan Parangtritis untuk singgah.  Warungnya tetap di dalam kampung dengan melewati gang-gang kecil yang hanya bisa dilewati sepeda motor.  Mobil terpaksa harus diparkir agak jauh. 

Pawonnya masih menggunakan tungku dan kayu bakar


Beliau mantap tidak ingin merubah warungnya menjadi lebih 'modern' seperti restoran-restoran lainnya.   Dapur atau orang Jawa menyebutnya pawon, tetap sama dengan pawon yang telah menghidupi keluarganya sejak puluhan tahun lalu.  Rumahnya tetap sederhana, meneruskan fungsi awal ketika dibangun, sebagai ruang tinggal, bukan warung makan.  Maka tamu yang datang menyantap nasi lele di ruang tamu, di ruang tengah, di pawon, di emper (teras) dan di samping rumah.  Hampir di semua bagian rumah.  Tapi yang paling berkesan tentu makan di pawonnya.  
Duduk di amben (seperti dipan untuk duduk-duduk), di antara kepulan asap dari tungku kayu, satu tangan memegang piring dan satu tangan lainnya menyuap hingga nasi terakhir.  Tidak peduli dengan anak serta cucu perempuan Mbah Marto hilir mudik mengurus dapur.  Sementara Mbah Marto sendiri hanya ongkang-ongkang kaki dan bercerita kesana-kemari, menemani tamu-tamunya.  



Masakan lainnya : Opor ayam, terik tahu telor, brongkos, oseng daun pepaya, dan buntil


Pelanggan yang telah biasa datang, akan tahu untuk langsung menuju pawon, tempat di mana sebuah amben bambu digunakan untuk menggelar baskom-baskom blirik yang jadul itu.  Ada opor ayam yang kuahnya kering, terik tahu telor, brongkos, oseng daun pepaya dan juga buntil yang bisa dipilih dan diambil sendiri.  Tidak ada pelayanan, silakan ambil sendiri mana yang disuka.  Istimewanya, semua ini adalah masakan rumahan.   

Aku membayangkannya seperti minta makan di rumah nenek. 

Mbah Marto dan anak perempuannya yang sibuk di dapur

Adalah Mbah Marto yang telah mulai menjajakan masakannya dengan tenggok (wadhah anyaman bambu) yang digendong di punggung dengan selendang, sejak puluhan tahun lalu.  Wilayah jajahannya sangat jauh dari rumah di Nggeneng, Sewon Bantul, menembus daerah kota Yogyakarta.  Seturut bertambahnya usia dan berkurangnya tenaga untuk berjalan jauh, Mbah Marto memutuskan untuk berjualan di rumah, di tempat yang sekarang ini.  

Mengenai rahasia masakan yang terkenal ini, simbah mengolah lele dengan cara yang berbeda.  Lele tidak digoreng, tapi di-asap.  Ada dua jenis asapan, yaitu digulung dan ditusuk dengan pelepah daun kelapa sehingga bentuknya lurus.  Penggunaan pelepah daun kelapa untuk tusukannya itupun merupakan rahasia berikutnya.  Pelepah itu bersifat lembab, sehingga tidak akan gosong terbakar saat dilakukan pengasapan.  Dan pada saat pengasapan, minyak yang keluar dari pelepah membuat lele semakin terasa beda.  

Rahasia lain adalah mengenai bumbu.  Memang namanya mangut, dengan rempah dan bumbu yang sama dengan masakan sejenis, tapi Mbah Marto tidak menggunakan santan seperti mangut pada umumnya.  Rasanya tetap sama pedas dengan mangut lainnya, tapi mempunyai kisah yang unik terkait dengan masa simbah masih menggendong tenggok.  Pada waktu itu, masakan ini tidak pedas.  Namun karena ketumpahan sambal saat tenggok bergoyang mengikuti gerak tubuhnya ketika berjalan, maka akhirnya orang mengenal mangut lele yang pedas.  
Hingga hari ini, masakan ini menjadi perbincangan dan target buruan demi pengalaman makan yang unik. 



Rabu, 15 Mei 2013

Kesabaran tetes kopi a la Vietnam

Vietnam Coffee Drip

Ho Chi Minh adalah kota yang mengejutkan. Begitu sibuk, bergeliat dan seolah tergesa mengejar pencapaian yang tertunda oleh perang panjang. Demikian kesan yang kusimpulkan dari tempatku duduk, saat menyapukan pandangan ke arah jalanan. Kopi khas Vietnam ini membuatku menunggu dan memiliki kesempatan untuk mengamati situasi di sekitar, hingga jatuhnya tetes kopi terakhir.

Kopi.  Bubuk hitam dengan rasa pahit itu sangat populer sebagai minuman yang bisa dinikmati dengan berbagai macam gaya.  Dari yang paling sederhana, menubrukkannya dengan air panas, maka jadilah kopi tubruk, seperti lazim di Indonesia. Atau diproses dengan mesin canggih berikut takaran yang terukur, seperti yang disukai penikmat kopi di Eropa, menjadikan kopi semakin bergaya.  Kopi juga menjadi teman buru-buru, dikemas dalam cangkir kertas tahan panas dalam genggaman para pekerja yang tergesa-gesa di jalanan Amerika. Begitu kaya akan gaya.

Tradisi.  Sejak ditanam, dipanen, hingga diproses menjadi bubuk dan dinikmati, merupakan rangkaian panjang yang mesti diakui sebagai budaya.  Apalagi menikmati kopi sebagai tradisi yang khas turun temurun ini masih berlangsung hingga hari ini.  Ragam budaya kopi ini telah menyebar di luar batas negara untuk menggapai lidah para petualang rasa. Ia tak lagi menjadi milik negara asal. Meskipun nama negara asal biasanya tetap melekat menjadi sebutan tradisi itu.  Kedai-kedai kopi modern justru menonjolkan proses-proses tradisional dalam membuat kopi untuk pelanggan, misalnya kopi tarik khas Melayu, Espresso yang terkenal di Itali atau rebus kopi a la Turki dengan kendil tembaga.

Sementara, nun jauh di sisi paling timur dari Semenanjung Indocina, masyarakat Vietnam menikmati kopi dengan cara yang unik.  Secara internasional ia terkenal dengan nama Vietnam Coffee Drip. Adalah tetes demi tetes kopi yang dinantikan memenuhi segelas kopi kecil. Di dasar gelas telah menanti susu kental yang siap diaduk jika tetes kopi terakhir telah jatuh. Rasa manis hanya samar-samar, sebab getir kopi Vietnam sangat pekat. Kopi susu? Ya .. menjadi segelas kopi susu jika itu di Indonesia. Hanya bedanya, kopi susu membuat rasa kopi menjadi sangat lemah dibandingkan rasa manis susu. Ini menjadi jenis kopi yang kuhindari.



Setakar bubuk kopi yang dituangkan dalam cangkir saringan alumunium ditambah air panas, akan menghasilkan tetesan pekat yang memenuhi gelas dibawahnya.  Menanti tetesan terakhir memenuhi gelas adalah moment yang menguji kesabaran, bahwa kenikmatan sesungguhnya tidak ada yang instan.

Bisakah dibayangkan, menikmati prosesi yang memakan waktu 10 hingga 15 menit di tengah riuh rendah kota Ho Chi Minh?  Sungguh ini menjadi semacam perlawanan. Proses yang begitu cermat dan lambat di antara lalu lalang penduduk yang terlihat selalu bergegas di jalan kota. Menunggu tetes demi tetes yang begitu pelan di antara laju sepeda motor yang tak henti-hentinya membunyikan klakson dan tampak terburu-buru.  Bagiku, ini seperti mencicipi surga kecil. Tempat di mana laju tubuh yang selalu melesat diperlambat dan jiwa yang gelisah diberi ruang untuk sejenak hening.  Pause. Jeda.





Rabu, 06 Maret 2013

Kisah Kelapa

Jika mengetik kata 'kelapa' di google search engine, maka dalam 0.18 detik, alamat yang muncul adalah sekitar 35 juta web.  Betapa banyak tulisan mengenai kelapa dan manfaatnya di berbagai bidang.  Kesehatan, perkebunan, perindustrian adalah beberapa contoh manfaat yang paling sering dibicarakan orang selain tentu saja pemakaian simbol 'tunas kelapa' oleh Pramuka Indonesia.   

Bahkan di Jawa ada kisah istimewa tentang sebutir kelapa yang menjadi penentu siapa yang berhak menjadi penguasa di Pulau Jawa di masa yang akan datang. 

Kisah ini dimulai saat Sunan Kalijaga memberikan petunjuk mengenai wahyu keraton kepada dua orang yang saling bersahabat, yaitu Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan.  Kepada Ki Ageng Giring diperintahkan untuk menanam sabut kering kelapa. Sedangkan kepada Ki Ageng Pemanahan diperintahkan untuk bertirakat di Kembang Semampir di Gunung Kidul.  

Ketika pohon kelapa yang ditanam Ki Ageng Giring tumbuh dan berbuah, dari salah satu buahnya mengeluarkan bisikan tentang wahyu keraton.  Bisikan itu didengar sebagai berikut, "Bagi siapa yang meminum kelapa muda ini dalam satu tegukan, maka anak keturunannya akan menjadi raja penguasa di pulau Jawa."

Ki Ageng Giring memetik buah kelapa tersebut dan menyimpannya di rumah.  Setelah itu pergi bekerja di ladang agar lelah dan menjadi haus sehingga bisa meminum air kelapa muda tersebut dalam sekali teguk, sesuai dengan bisikan gaib yang tadi didengarnya.  

Sayangnya, ketika Ki Ageng Giring kembali ke rumah dan berniat meminum air kelapa muda dalam satu teguk harus menemui kekecewaan.  Sahabatnya, yaitu Ki Ageng Pemanahan telah datang berkunjung dan sambil menunggu kepulangan Ki Ageng Giring dari ladang, telah meneguk habis air kelapa yang telah disimpan.  

Meskipun kecewa, Ki Ageng Giring mengikhlaskan bahwa wahyu keraton telah jatuh kepada diri Ki Ageng Pemanahan, seperti nasib yang telah digariskan.  Namun, Ki Ageng Giring masih mengupayakan agar anak turunnya ikut menikmati menjadi penguasa di Jawa.  Ki Ageng Giring meminta kebijaksanaan Ki Ageng Pemanahan agar penguasa ke-7 di Jawa adalah dari keturunan Ki Ageng Giring.  

Selanjutnya, setelah 6 keturunan Ki Ageng Pemanahan (Panembahan Senapati, Panembahan Seda Krapyak, Sultan Agung, Amangkurat I, Amangkurat II dan Amangkurat III) memimpin pulau Jawa di bawah Kerajaan Mataram, keturunan dari Ki Ageng Giring berkuasa di Jawa.  Beliau adalah Pangeran Puger yang menggantikan Amangkurat III yang bertabiat buruk dan kurang bijaksana memimpin Kerajaan Mataram. 
Kisah ini menjadi latar bagi Ki Ageng Pemanahan membuka Alas Mentaok (Kotagede sekarang) yang merupakan pemberikan Sultan Pajang sebagai wilayah perdikan, cikal bakal Kerajaan Mataram, sekaligus melegitimasi anak keturunannya menjadi penguasa di Jawa. 



Penjual es degan di Jalan Kemasan Kotagede

Lepas dari kisah istimewa tersebut, buah yang pohonnya sangat mudah tumbuh di daerah tropis ini selalu menjadi buah yang menggiurkan untuk dinikmati kesegarannya.  Es degan, demikian orang Jawa menyebut kelapa muda, menjadi favorit untuk menghilangkan rasa haus di siang yang terik.  
Tapi tak hanya di Jawa atau di pulau-pulau lain di Nusantara, kelapa juga menjadi buah favorit di beberapa negara lain dimanapun pohon ini bisa tumbuh.  

Air kelapa tak hanya diminum untuk kesegaran, tapi buah kelapa dengan jenis tertentu dikatakan bisa untuk menetralkan racun, mengurangi mual, bahkan ada pula yang meminumnya untuk mengobati penyakit.  Jenis ini harganya hampir dua kali lipat lebih mahal dari jenis kelapa lain karena memang tidak mudah dijumpai.  
Agak sulit membedakannya dengan jenis kelapa lainnya karena warnanya yang sama. Namanya Kelapa Ijo (Hijau) atau Kelapa Wulung, sekilas tampak sama dengan kelapa jenis lain.  Perbedaan hanya bisa dilihat saat bagian pantatnya dipangkas, maka kulit dalamnya berwarna merah muda, sangat berbeda dengan kelapa biasa yang kulit dalamnya selalu berwarna putih.  


Kelapa Ijo (Hijau) atau sering disebut Kelapa Wulung, dibedakan dari warna kulit dalamnya yang bersemu merah muda



Es kelapa muda dan Tom Yam isi sayuran di Soi Rambuttrii, Bangkok, Thailand



Es kelapa muda di taman kota dekat Notre Dame Cathedral, Ho Chi Minh, Vietnam

Senin, 03 Desember 2012

Teh Mawar

Hujan turun mengejar kami menuju meeting point di Sangkring Art Space di Kampung Nitiprayan.   Pertemanan yang telah dipisah jarak seluas lautan dan waktu mendekati setahun, akan direkatkan kembali siang itu.  

Aku bawakan sekotak English Tea Bag seperti pesanannya dan dia akan membawa seplastik French Roses dari negaranya.

"Local black tea bag is ok." katanya di telepon saat aku mencarikan pesanannya di supermarket.  Well, english tea bisa juga untuk sebutan teh hitam rupanya.

Pertemuan dengan teman lama selalu manis seperti 3 kuntum mawar dalam secangkir teh.  Kehidupan yang selalu berjalan dinamis, susah senang, tantangan, pencapaian, seperti misteri dalam gelapnya air seduhan teh.  Perjalanan yang hampir setahun dikabarkan dalam sejam dua jam pertemuan ini.  Kita semua telah lalui rentang waktu penuh gejolak dengan kesehatan dan keceriaan dalam setiap pergulatan yang telah kita taklukan.  Membuat kita menjadi pribadi yang tetap sama.  Orang-orang yang tahu bagaimana bersuka di antara duka.  Dan seperti kali ini, ada 3 kuntum mawar kering yang wangi menghiasi suasana lebih berbeda.  Inilah hadiah bagi orang-orang yang bersabar dan bergerak apapun yang terjadi.  


 Catatan Mama :

Teh Mawar adalah benar-benar teh perempuan, bukan karena warnanya yang mempesona, tapi juga karena manfaatnya dalam kesehatan.  Sejak Dinasti Ming (1368-1644), teh mawar ini telah diminum secara luas khususnya bagi perempuan karena manfaat kesehatannya.  Antara lain :
- menenangkan mood yang tidak stabil
- menenangkan sakit akibat menstruasi
- memperbaiki ketidakseimbangan inkresi
- mempercepat sirkulasi darah
- dan lain-lain

Menikmati seduhan teh mawar memang menenangkan, sebab teh yang manis, hangat dan aromanya yang wangi.  Setelah seduhan ke sekian kali, wangi mawar masih bisa  menyebar di seluruh ruangan di rumah.   Setelah melakukan latihan atau pekerjaan berat, menyeruput secangkir teh mawar dapat membuat rileks dan mempercepat pemulihan energi.


Dicatat dari Amazon.com


Jumat, 30 November 2012

Khanom Bueang : Bangkok Street Snack

Khanom Bueang 20 Baht/box : 6 pcs
Namanya Khanom Bueang, semacam kue lekker kalau di Indonesia.  Terbuat dari tepung beras untuk pancake-nya yang tipis dan krispy dan ditaruh krim lembut dari kelapa diatasnya. Topingnya bisa dari parutan kelapa yang diwarnai oranye dan yang berwarna kuning adalah hasil kuning telur yang diolah menjadi manis. 

Crispy and sweet

Setengah lusin Khanom Bueang yang dijual 20 Baht ini katanya mudah dijumpai di Thailand.  Kebetulan gerobaknya kutemukan di ujung Rambuttri Soi yang berdekatan dengan Khao San Road-Bangkok, dan langsung membuatku ingin mencicipinya.  Snack manis ini harus segera disantap dalam keadaan hangat, sebab jika dingin kulitnya yang garing menjadi melempem, tidak krispy lagi.  Krim kelapa yang berwarna putih enak juga dan terasa manis.  Topingnya yang berwarna oranye dari parutan kelapa rasanya enak.  Tapi toping yang dari kuning telur (berwarna kuning) terasa agak amis.   Me, do not like.

Salah satu stall/gerobak Khanom Bueang di Soi Rambuttri, Bangkok





Rabu, 28 November 2012

Camilan Biji Lotus


Lotus atau padma, menjadi tanaman yang selalu ada dan mudah ditemui di negara-negara yang menganut ajaran Buddha, seperti Thailand, Cambodia dan Vietnam.  Setidaknya ketiga negara ini yang pernah kukunjungi dan selalu melihat bunga ini di pasar atau di jalan.  

Bunganya selalu tersedia di sekitar kuil atau pagoda, dibutuhkan para pendoa sebelum melakukan puja bakti di depan altar.  Di Thailand satu tangkai bunga lotus bisa ditukar dengan donasi 10 Baht.  Sedangkan donasi untuk satu rangkaian dalam jambangan kuningan yang terdiri dari 5 kuntum lotus bisa mencapai 50 Baht.

Dan ternyata, setelah semua petal bunganya rontok, bijinya bisa dimakan.  Biji-biji ini terbungkus semacam serat-serat gabus yang berbentuk seperti kepala shower untuk mandi.  Jika dikupas, akan terlihat biji-biji lotus yang berwarna hijau muda.  Sebelum dimakan secara mentah, biji berwarna hijau muda itu masih harus dikupas sekali lagi.  Biji-biji yang berwarna putih ini siap menjadi camilan sehat dan katanya lebih sehat daripada kacang karena tidak mengandung lemak.


Rasanya hambar, tidak manis atau asin.  Asyik saja mengikuti mereka mengupas dan memakan biji lotus.  Pertama kali mencobanya di pinggir jalan seberang pemberhentian bis yang membawaku dari perbatasan Bangkok-Cambodia di Rangklua Market menuju Siem Reap.  Anak-anak penjual keripik,  kerupuk, burung goreng sekaligus bensin itu menawariku mencicipinya gratis dan semangat mengajariku bagaimana cara mengkonsumsinya dengan bahasa Tarzan hehehehe .. 



Kamis, 08 November 2012

Heritage Cafe, Jogjakarta


Sore ini aku dan seorang teman berjanji untuk bertemu, menghabiskan sore dengan kopi dan obrolan yang pernah dimulai dua minggu lalu.  Pilihan jatuh pada sebuah Cafe dengan konsep heritage.

Kami memilih sudut di luar bangunan utama yang ternyata, selain berfungsi sebagai cafe juga sebagai markas Jogja Heritage Society (JHS), di Jl Surokarsan No 24, Jogjakarta.   


 Di hadapan kami adalah seperangkat meja kursi sederhana,  semangkuk air dengan sekuntum krisan putih di atas meja dan pemandangan menghadap jalan yang dihalangi tanaman merambat dengan bunga-bunga mungil merah jambu.  Bersahaja. 

Berbagai macam minuman ditawarkan sama seperti cafe-cafe lain, ada teh, kopi, coklat, juice hingga wedang uwuh. 
Namun yang unik adalah menu makanan yang hampir semuanya variasi hasil olahan tempe.  Memang tempe adalah bahan andalan utama cafe yang buka mulai pukul 16.00 sampai 23.00 WIB. 

Seperti yang kupesan sore ini untuk menemani segelas dingin chocomint adalah Macaroni Tempe Schotel yang dipanggang sekaligus dihidangkan dalam ramekin tahan panas.  Gilingan tempe terasa lembut sebagai ganti daging di antara rasa susu, makaroni, green peas, potongan wortel dan parutan keju.

Saat obrolan tentang kemungkinan menjual sebuah paket wisata heritage tak kunjung rampung, maka menu kedua dibutuhkan kemudian.  
Sepiring Cordon Bleu Tempe cukup menggugah selera dengan garnish lengkap seperti potongan wortel dan brokoli rebus serta mashed potato. 

Dan secangkir kopi hitam tambahan cukup untuk menutup sore ini dengan memuaskan. Menghentikan sederet obrolan menggebu tentang heritage, optimisme pariwisata, binar-binar pada destinasi-destinasi impian, tercekat dengan pengalaman horor dan .. well yeah tertawa sinis pada sexual habit of some thirty something women around us.  

Dan tiba-tiba, kami mencintai cafe kecil ini.  Sebab sebuah perpustakan yang berada di dalam bangunan utama terbuka lebar untuk siapa saja datang, membaca dan meminjam buku-buku menawan hati.  Ada buku tentang arsitektur, sejarah, novel, laporan penelitian, studi kawasan, dan tentu saja tentang heritage. Tak lama kemudian kami sudah sepakat menentukan  bahwa tempat ini akan menjadi ruang nongkrong paling ideal bagi kami. Oh la la ..